TANJUNGPANDAN — Momentum 1 Muharam 1448 Hijriah dijadikan sebagai titik tolak bagi umat Islam di Kabupaten Belitung untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri secara menyeluruh. Hal ini disampaikan langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) setempat, H. Suyanto, di Tanjungpandan, Selasa.
Menurutnya, kata hijrah yang berasal dari akar kata hajara, yahjuru, hijratan tidak hanya berarti berpindah tempat, tetapi secara spiritual bermakna memiliki tekad kuat untuk meninggalkan segala hal yang tidak baik. "Menjauhi perilaku dosa yang pernah dilakukan di masa lalu, menuju ketaatan dan kepatuhan seutuhnya di jalan yang benar," ujar H. Suyanto.
Dalam fase hijrah spiritual ini, Kemenag Belitung menekankan tiga pilar utama yang harus dijunjung tinggi oleh setiap muslim. Pertama, penguatan adab yang harus ditempatkan di atas ilmu agar melahirkan tatanan masyarakat yang saling menghormati dan teduh.
"Adab harus ditempatkan di atas ilmu agar melahirkan tatanan masyarakat yang saling menghormati dan teduh. Sementara ilmu menjadi kompas penuntun, dan akhlakul karimah adalah puncak perwujudannya sehingga seorang Muslim dapat menjadi panutan (uswatun hasanah) di lingkungannya," papar H. Suyanto.
Pilar kedua adalah penguasaan ilmu yang berfungsi sebagai kompas penuntun dalam setiap langkah kehidupan. Sedangkan pilar ketiga adalah implementasi akhlakul karimah, yang menjadi puncak perwujudan dari seorang muslim yang berkualitas dan dapat menjadi teladan di tengah masyarakat.
Melalui momentum Tahun Baru Islam ini, Kemenag Belitung mendorong masyarakat untuk merefleksikan diri demi membangun tatanan sosial yang harmonis. H. Suyanto berharap lembaran baru di tahun 1448 Hijriah ini dapat membawa kedamaian dan keberkahan bagi seluruh warga di Kabupaten Belitung.
"Mari kita jadikan tahun baru ini sebagai titik awal untuk terus berbenah diri, meningkatkan kontribusi positif, serta menebar kemaslahatan yang lebih luas bagi daerah," kata H. Suyanto menutup arahannya.
Ajakan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pergantian tahun Hijriah bukanlah rutinitas kalender tahunan yang diperingati secara seremonial belaka, melainkan sebuah momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar-sesama warga.