PANGKALPINANG — Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kepulauan Babel, Kurniawan, mengatakan program ini mulai berjalan tahun ini dengan pendanaan dari APBN dan APBD masing-masing 30 hektare.
"Pada tahun ini, kita akan melaksanakan mandiri benih di 60 hektare padi sawah," ujarnya di Pangkalpinang, Kamis.
Selama ini, sebagian besar benih padi yang digunakan petani di Babel berasal dari luar provinsi. Program ini mendorong kelompok tani untuk memproduksi benih unggul sendiri yang adaptif terhadap kondisi lahan dan cuaca setempat.
Menurut Kurniawan, benih lokal yang dihasilkan diharapkan memiliki produktivitas tinggi, tahan hama, dan lebih cocok dengan karakteristik tanah di Kepulauan Bangka Belitung. "Kita berharap mandiri benih berasal dari benih padi lokal yang memiliki produksi tinggi, tahan hama dan lebih tahan dengan kondisi cuaca, kondisi tanah di Kepulauan Bangka Belitung ini," katanya.
Dalam asumsi panen empat ton per hektare, sebanyak tiga ton akan digunakan kembali sebagai benih untuk musim tanam selanjutnya. Sisa satu ton bisa dimanfaatkan petani untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Sebanyak tiga ton hasil panen program mandiri benih ini nantinya akan ditanam kembali pada musim tanam berikutnya, sehingga para petani tidak lagi kesulitan untuk mengembangkan usaha pertanian ini," jelas Kurniawan.
Program ini difokuskan di Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka. Pemilihan lokasi didasarkan pada potensi lahan sawah dan kesiapan kelompok tani di dua daerah tersebut. Jika berhasil, bukan tidak mungkin program diperluas ke kabupaten lain di Babel.
Mandiri benih merupakan program pemerintah pusat yang bertujuan meningkatkan produktivitas padi nasional sekaligus mempercepat distribusi benih berkualitas ke petani. Di Babel, program ini menjadi salah satu pilar ketahanan pangan daerah.