KOBA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangka Tengah mencatat sebanyak 192 kejadian bencana terjadi di wilayahnya sepanjang tahun ini. Data tersebut dirinci menjadi empat jenis bencana yang paling sering melanda, yaitu banjir, angin puting beliung, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kebakaran lainnya.
Dari total 192 kejadian, kebakaran hutan dan lahan menjadi bencana dengan frekuensi tertinggi, mencapai 175 kasus. Angka ini jauh melampaui jenis bencana lainnya. Sementara itu, BPBD mencatat sembilan kejadian puting beliung, tujuh kasus kebakaran lainnya, dan empat kejadian banjir yang tersebar di berbagai kecamatan.
Kepala BPBD Bangka Tengah Yudhi Sabara di Koba, Minggu, mengatakan perubahan iklim global meningkatkan potensi bencana alam dengan dampak yang semakin luas. Menurutnya, perubahan iklim memicu meningkatnya frekuensi kejadian bencana disertai intensitas yang lebih ekstrem, sehingga diperlukan kesiapsiagaan sejak dini dari seluruh masyarakat.
BPBD telah memetakan sejumlah kawasan dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Wilayah yang masuk dalam pemetaan tersebut meliputi sepanjang ruas Jalan Desa Penyak hingga Desa Terentang, kawasan By Pass Koba, serta Arung Dalam. Selain itu, beberapa titik di kecamatan lainnya juga dinilai memiliki potensi kebakaran cukup tinggi.
Yudhi menjelaskan, jumlah titik rawan kebakaran dapat terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi tahun-tahun sebelumnya. Ia menambahkan, titik yang sebelumnya tidak termasuk kategori rawan dapat berubah menjadi rentan terbakar akibat kekeringan berkepanjangan.
"Maka kita imbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, menghindari pembakaran lahan, serta segera melaporkan kejadian bencana kepada petugas agar cepat ditangani," ujar Yudhi.