MENTOK — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat tidak hanya mengandalkan pameran dan galeri untuk memasarkan produk IKM. Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja setempat, Agus Setyadi, menyebut pola pemasaran dalam jaringan juga terus digencarkan.
"Selama ini berbagai upaya sudah kita lakukan, baik melalui pola pemasaran langsung, seperti pameran dan pajang produk di galeri, maupun dengan pola pemasaran dalam jaringan," kata Agus di Mentok, Senin.
Produk teh tayu yang dihasilkan warga Kampung Tayu, Kecamatan Jebus, disebut memiliki keunikan karena ditanam di dataran rendah. Agus mengungkapkan, saat ini bahan baku teh tersebut sudah cukup melimpah dengan luas kebun mencapai sekitar dua hektare yang dikelola warga.
"Khusus untuk teh tayu, kita sudah bantu mulai dari awal dengan memasarkan produk melalui berbagai pameran regional dan nasional, dari situ mulai ada beberapa pesanan luar daerah, bahkan luar negeri," ujarnya.
Meski demikian, produksi teh tayu saat ini masih terbatas, mengikuti jumlah pesanan dan untuk memenuhi stok persediaan. Pemerintah daerah pun berupaya menguatkan koordinasi dengan Disperindag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung agar pemasaran produk unggulan ini semakin meluas.
Langkah strategis telah ditempuh untuk meningkatkan daya saing teh tayu. Beberapa bulan lalu, produk ini resmi mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Kanwil Kementerian Hukum Kepulauan Bangka Belitung. Sertifikat ini menjadi bukti jaminan keaslian dan kualitas produk, sehingga nilainya lebih tinggi di pasar nasional maupun internasional.
Bupati Bangka Barat, Markus, menegaskan bahwa sertifikat IG bukan sekadar kebanggaan daerah. "Sertifikat IG teh tayu dari Jebus ini bukan sekadar kebanggaan daerah, tetapi juga akan meningkatkan daya saing produk lokal di pasar yang lebih luas," katanya. Ia menambahkan, manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal menjadi target utama.
Selain teh tayu, beberapa produk IKM Bangka Barat dinilai potensial merambah pasar mancanegara. Di antaranya lada putih kemasan bubuk, pewarna makanan alami berbahan daun pandan, dan tenun cual. Produk-produk tersebut, menurut Agus, sudah mulai menembus konsumen luar negeri meski dalam jumlah terbatas.
Pemerintah daerah tidak berhenti pada teh tayu. Pemkab Bangka Barat berencana mengupayakan sertifikat IG untuk produk unggulan lain, seperti kopiah resam yang telah menjadi identitas budaya daerah. "Akan kita upayakan sebagai bentuk komitmen bersama melindungi produk unggulan daerah agar memiliki nilai tambah, daya saing dan kepastian hukum di tengah persaingan pasar yang semakin ketat," jelas Bupati Markus.