KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Konsolidasi ini bukan sekadar wacana. Pelindo bergerak menyatukan rantai pasok milik perusahaan-perusahaan pelat merah, mulai dari Pelni, Kereta Api Indonesia (KAI), hingga PT Logistik Indonesia (Sucofindo). Tujuannya satu: memangkas biaya logistik nasional yang saat ini masih di kisaran 23-24 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), jauh di atas negara tetangga seperti Malaysia yang hanya 13 persen.
Dalam skema awal, Pelindo akan menjadi integrator utama. Perusahaan pelabuhan ini akan mengoordinasikan pergerakan barang dari pelabuhan ke gudang, lalu ke pabrik atau pasar. BUMN lain seperti Pertamina, yang memiliki jaringan tangki dan depo di seluruh Indonesia, bisa ikut memanfaatkan sistem ini untuk distribusi BBM.
PLN juga masuk hitungan. Selama ini, distribusi batu bara dan peralatan listrik kerap berjalan sendiri-sendiri. Dengan konsolidasi, rute dan jadwal pengiriman bisa digabung sehingga kapal atau truk tidak pulang dalam keadaan kosong.
Direksi Pelindo memperkirakan efisiensi ini bisa menekan biaya logistik hingga 2-3 persen dalam dua tahun pertama. Angka itu mungkin terdengar kecil, tapi dalam skala nasional setara dengan triliunan rupiah. Dampaknya: harga semen, pupuk, beras, hingga komponen elektronik bisa lebih murah di tingkat distributor.
“Kami sudah mulai memetakan rute dan volume barang BUMN. Targetnya, tidak ada lagi kapal atau kontainer yang berjalan setengah kosong,” ujar seorang pejabat Pelindo dalam keterangan resmi, Selasa (15/4).
Tantangan terbesar justru di internal BUMN sendiri. Selama ini, setiap perusahaan punya kontrak logistik dengan vendor masing-masing. Mengubah kebiasaan itu butuh negosiasi ulang dan kesediaan berbagi data. Belum lagi soal sistem digital yang belum seragam.
Pelindo mengaku akan membangun platform digital bersama agar semua BUMN bisa memantau pergerakan barang secara real-time. Langkah ini juga sejalan dengan arahan Kementerian BUMN untuk menciptakan ekosistem logistik nasional yang terintegrasi.
Jika konsolidasi ini berjalan mulus, bukan tidak mungkin biaya logistik Indonesia bisa turun ke bawah 20 persen terhadap PDB dalam lima tahun ke depan. Itu berarti daya saing produk lokal di pasar global ikut terdongkrak.