SUNGAILIAT — Wakil Direktur III Polman Babel, Eko Sulistyo, M.T., membuka seminar dengan menekankan pentingnya hilirisasi riset mahasiswa. Ia mendorong peserta untuk menghasilkan karya ilmiah yang bisa langsung dipublikasikan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Hasil penelitian mahasiswa harus mampu memberikan manfaat,” ujar Eko dalam sambutannya di Gedung Aula Polman Babel, Rabu (1/7/2026).
Eko juga berpesan kepada para mahasiswa tingkat akhir agar tidak berhenti mengembangkan kemampuan meski telah menyelesaikan perkuliahan. Ia menekankan bahwa lulusan Polman Babel harus terus berinovasi, meningkatkan kompetensi, dan siap bersaing di dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Seminar yang diikuti mahasiswa dari Jurusan Rekayasa Mesin, Teknik Elektronika, Teknik Perancangan Mekanik, serta Perawatan dan Perbaikan Mesin ini menghadirkan tiga narasumber: Subkhan, M.T., Linda Fujiyanti, M.T.I., dan Peprizal, M.Pd.T.
Pada sesi pertama, Peprizal, M.Pd.T., memaparkan kondisi Indonesia yang masih bergantung pada konsumsi bahan bakar minyak. Menurutnya, ketidakstabilan harga energi dapat memicu inflasi, meningkatkan biaya produksi dan transportasi, serta menaikkan harga barang dan jasa.
“Teknologi dan inovasi menjadi solusi penting dalam menghadapi tantangan tersebut melalui peningkatan efisiensi energi, kemandirian energi, sistem monitoring dan kontrol energi, serta pengurangan emisi lingkungan,” jelas Peprizal.
Ia menambahkan, penguatan ketahanan energi nasional merupakan fondasi penting menuju pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Linda Fujiyanti, M.T.I., memaparkan hasil penelitiannya tentang pemanfaatan teknologi digital dalam makanan bergizi. Ia menemukan bahwa tingkat pengetahuan gizi masyarakat masih rendah dan aktivitas fisik cenderung menurun.
“Kondisi tersebut mendorong perlunya inovasi berupa game edukasi yang mampu menghitung kebutuhan gizi secara personal,” kata Linda.
Ia mendorong mahasiswa mengembangkan aplikasi mobile, chatbot gizi berbasis kecerdasan buatan, hingga dashboard monitoring gizi. “Game bukan sekadar hiburan, tetapi juga media edukasi yang efektif,” tegasnya.
Pembicara ketiga, Subkhan, M.T., mengangkat konsep Education for Sustainable Development (ESD). Ia menilai pendekatan ini membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap agar mampu berkontribusi menciptakan masyarakat yang adil, tangguh, dan berkelanjutan.
“Lulusan pendidikan vokasi harus memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri sekaligus berkarakter disiplin, komunikatif, mampu bekerja sama, memiliki kemampuan memecahkan masalah, serta menjunjung tinggi integritas,” ujar Subkhan.
Di akhir seminar, ketiga narasumber memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengajukan pertanyaan seputar isu energi, inovasi game bergizi, hingga implementasi ESD di kampus. Suasana interaktif ini diharapkan mendorong mahasiswa menghasilkan inovasi yang mampu menjawab tantangan global sekaligus berkontribusi bagi pembangunan bangsa.