PANGKALPINANG — Kemendikdasmen memprioritaskan pembangunan Sekolah Satu Atap di wilayah 3T, termasuk pulau-pulau kecil di Bangka Belitung. Langkah ini diambil untuk menekan angka kesenjangan akses dan mutu pendidikan yang masih tinggi di daerah terpencil.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa masih banyak anak Indonesia belum mendapat kesempatan belajar karena keterbatasan ekonomi, kondisi geografis, disabilitas, hingga faktor sosial budaya. Di Kepulauan Bangka Belitung, tantangan geografis menjadi hambatan utama bagi anak-anak di pulau terpencil dan desa terpelosok.
"Pengembangan Sekolah Satu Atap ini difokuskan di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, agar anak-anak bangsa di daerah 3T ini mendapatkan akses pendidikan bermutu dan berkualitas dengan mudah," kata Abdul Mu’ti di Pangkalpinang, Kamis.
Konsep Sekolah Satu Atap mengintegrasikan jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA dalam satu kawasan. Dengan begitu, siswa tidak perlu menempuh jarak jauh atau pindah pulau untuk melanjutkan sekolah.
Abdul Mu’ti menambahkan, program ini bisa diterapkan di pulau-pulau kecil berpenghuni di Provinsi Kepulauan Babel. "Agar anak-anak di pulau-pulau terpencil dan desa terpelosok ini mendapatkan akses pendidikan yang baik dan berkualitas," ujarnya.
Menurut data yang dipaparkan Mendikdasmen, kesenjangan pendidikan di Indonesia tidak hanya soal akses, tetapi juga mutu. Banyak daerah yang kekurangan guru, fasilitas belajar, dan infrastruktur sekolah yang layak.
"Kami berharap kehadiran Sekolah Satu Atap ini dapat mengatasi berbagai kesenjangan pendidikan di Indonesia," kata Abdul Mu’ti saat menghadiri Wisuda Ke-17 Universitas Muhammadiyah Babel.
Program ini menjadi salah satu prioritas Kemendikdasmen untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas dan dapat diakses seluruh masyarakat, sebagaimana diamanatkan konstitusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.