PANGKALPINANG — Abdul Mu’ti menegaskan bahwa era disrupsi bukan sekadar ancaman, melainkan panggilan untuk berubah. Tanpa orientasi pada mutu, kata dia, para lulusan perguruan tinggi akan tertinggal.
"Di era disrupsi ini, semua harus berorientasi pada mutu. Kalau tidak bermutu, kita akan tertinggal," ujarnya di hadapan para wisudawan.
Menurut Mendikdasmen, sarjana tidak cukup hanya pandai menyesuaikan diri terhadap perubahan. Mereka justru harus menjadi pihak yang merancang arah perubahan itu sendiri.
"Dengan inovasi dan kreativitas itulah kita dapat bertahan, bahkan menjadi pemimpin perubahan bangsa ini," kata Abdul Mu’ti.
Ia merujuk pada buku berjudul The World in 2050 yang memprediksi hilangnya ribuan jenis pekerjaan di masa depan. Namun, di saat yang sama, akan bermunculan jauh lebih banyak pekerjaan baru.
"Mereka yang akan berhasil adalah mereka yang terus belajar, terus beradaptasi, serta mampu memanfaatkan setiap perubahan menjadi peluang," tegas Abdul Mu’ti.
Mendikdasmen juga menyoroti faktor mentalitas. Ia meminta para sarjana memiliki pola pikir yang terus berkembang (growth mindset) dan mental baja dalam menghadapi tantangan.
"Jangan bermental tempe, apalagi bermental kerupuk. Kerupuk ketika masih kering terdengar keras. Tetapi, begitu terkena air langsung melempem. Jangan menjadi pribadi seperti itu," pesannya.
Pesan ini disampaikan di tengah gelombang digitalisasi dan otomatisasi yang mengubah lanskap ketenagakerjaan nasional. Abdul Mu’ti mendorong para lulusan untuk tidak hanya mengandalkan ijazah, melainkan kapasitas inovasi yang teruji.