PANGKALPINANG — Inflasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada Juni 2026 tercatat masih terkendali. BPS mencatat, secara bulanan (month to month/mtm) terjadi inflasi sebesar 0,35 persen, sementara secara tahunan (yoy) mencapai 2,92 persen.
Capaian itu membuat Bangka Belitung masuk dalam jajaran daerah dengan inflasi terendah secara nasional. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Rommy S. Tamawiwy, menyebut inflasi yang stabil menjadi modal penting menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan ekonomi global.
Kepala BPS Bangka Belitung menjelaskan, inflasi bulanan Juni 2026 didorong oleh kenaikan harga pada kelompok transportasi serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Tarif angkutan udara naik imbas meningkatnya harga avtur seiring konflik di Selat Hormuz dan penyesuaian harga bahan bakar minyak non-subsidi pada 10 Juni 2026.
Di sisi lain, harga daging ayam ras ikut menekan inflasi. Pasokan terbatas pasca-Iduladha bertepatan dengan meningkatnya permintaan masyarakat menjelang perayaan Tahun Baru Hijriah di Bangka Belitung.
Secara tahunan, tekanan inflasi terbesar berasal dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 6,17 persen. Komoditas emas perhiasan masih menjadi penyumbang utama karena harganya yang tetap tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau turut menyumbang inflasi sebesar 4,49 persen, terutama didorong kenaikan harga cumi-cumi. Sementara kelompok transportasi mengalami inflasi 4,20 persen akibat tarif angkutan udara yang masih tinggi.
Rommy Tamawiwy mengatakan, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus memperkuat pengendalian inflasi. Hingga Juni 2026, telah digelar 10 kali High Level Meeting untuk merumuskan kebijakan yang tepat sasaran.
"Bank Indonesia dan pemerintah daerah juga telah melaksanakan Operasi Pasar Murah dan Gerakan Pangan Murah sebanyak 64 kali untuk menjaga keterjangkauan harga pangan," ujar Rommy dalam keterangan resmi yang diterima Antara.
Selain itu, penguatan kerja sama antar daerah terus didorong untuk memastikan pasokan pangan ke Bangka Belitung tetap terjaga. Bank Indonesia juga melakukan pendampingan kepada UMKM sektor pertanian serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya berbelanja dan berkonsumsi secara bijak.
Rommy menambahkan, penguatan strategi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif) diharapkan dapat mengoptimalkan implementasi program Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
"Tantangan inflasi ke depan masih ada akibat ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik. Karena itu, optimisme, komitmen, dan sinergi bersama pemerintah daerah dan instansi terkait perlu terus diperkuat agar inflasi tetap rendah dan stabil sesuai sasaran nasional," pungkasnya.