PANGKALPINANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatat kinerja ekspor daerah itu pada Mei 2026 hanya mencapai 154,04 juta dolar AS. Angka ini jau berkurang jika dibandingkan dengan Mei 2025 yang sebesar 206,04 juta dolar AS.
Kepala BPS Kepulauan Babel Sugeng Arianto menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan dampak dari perlambatan ekonomi global yang masih berlangsung. "Penurunan ekspor ini sebagai dampak kondisi perekonomian global," katanya di Pangkalpinang, Jumat.
Komoditas utama Babel, timah, masih menjadi penyumbang terbesar dengan nilai ekspor 129,48 juta dolar AS pada Mei 2026. Namun, capaian ini tetap turun 22,91 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.
Kondisi lebih buruk dialami komoditas nontimah. Nilai ekspornya pada Mei 2026 hanya 24,56 juta dolar AS, ambles 35,52 persen dari posisi 38,09 juta dolar AS pada Mei 2025.
BPS mencatat, timah asal Bangka Belitung mayoritas dikirim ke negara-negara Asia. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Tiongkok menjadi pangsa pasar terbesar dengan menyerap 43,35 persen dari total ekspor timah, setara nilai 301,58 juta dolar AS.
Pada Mei 2026 saja, nilai ekspor timah ke Negeri Tirai Bambu mencapai 21,89 juta dolar AS. Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan dengan porsi 13,57 persen dan India sebesar 10,16 persen. Singapura dan Belanda juga masuk dalam lima besar negara tujuan.
Kepala BPS menyebutkan, kontribusi lima negara utama ini mencapai 78,89 persen terhadap total ekspor timah Bangka Belitung ke seluruh dunia. "Nilai ekspor Januari hingga Mei 2026 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya terjadi pertumbuhan ke lima negara terbesar tujuan ekspor timah yaitu sebesar 10,02 persen," ujar Sugeng.
Di luar timah, komoditas lemak dan minyak hewan atau nabati masih mendominasi. BPS mencatat nilai ekspor golongan ini pada Januari hingga Mei 2026 sebesar 72,46 juta dolar AS.
"Ekspor lemak dan minyak hewan nabati berperan sebesar 48,94 persen atau dengan kata lain komoditas ini merupakan komoditas yang paling mendominasi ekspor nontimah," kata Sugeng. Artinya, hampir separuh dari total ekspor non-timah Babel bergantung pada sektor ini.