LG Energy Solution Raup Laba Rp 6,5 Triliun, Meleset dari Target Akibat Lesunya Permintaan EV Global

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 07 Juli 2026 | 09:38:01 WIB
LG Energy Solution catat laba Rp 6,5 triliun meski meleset dari target.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kinerja keuangan yang meleset dari target ini menjadi sinyal bahwa tekanan di industri EV global belum mereda. Meskipun permintaan untuk sistem penyimpanan energi (energy storage system/ESS) melonjak tajam, hal itu belum cukup untuk menutup penurunan penjualan baterai untuk mobil listrik yang menjadi bisnis inti LG Energy.

Dua Sisi Bisnis: ESS Melesat, EV Terkoreksi

Dalam laporan pendahuluan yang dirilis pekan ini, LG Energy menyebutkan bahwa divisi ESS justru mencatat pertumbuhan signifikan seiring dengan kebutuhan penyimpanan listrik dari proyek-proyek energi terbarukan. Namun, pendapatan dari sektor otomotif—khususnya baterai EV—terkontraksi cukup dalam.

Penurunan ini terjadi di tengah kebijakan suku bunga tinggi di AS dan Eropa yang membuat harga mobil listrik masih relatif mahal bagi konsumen. Produsen mobil pun mulai menyesuaikan target produksi EV mereka, yang langsung berdampak ke pemasok baterai seperti LG Energy.

Tekanan Harga Baterai dan Persaingan Ketat

Selain volume penjualan yang menurun, LG Energy juga menghadapi tekanan pada harga jual baterai. Persaingan dengan produsen asal China seperti CATL dan BYD yang menawarkan baterai dengan harga lebih murah semakin mempersempit margin keuntungan.

“Penurunan laba ini menunjukkan bahwa produsen baterai Korea masih kesulitan bersaing di segmen harga, terutama untuk pasar EV massal,” kata analis dari Samsung Securities dalam catatan risetnya. “Kelebihan pasokan global juga membuat negosiasi harga dengan pabrikan mobil semakin ketat.”

Apa Dampaknya Bagi Investor dan Industri?

Kinerja LG Energy yang di bawah ekspektasi menjadi indikasi bahwa pemulihan industri EV mungkin lebih lambat dari perkiraan awal. Bagi investor, berita ini menambah kekhawatiran terhadap valuasi saham sektor baterai yang sempat melambung tinggi di tahun-tahun sebelumnya.

Di sisi lain, lonjakan bisnis ESS justru membuka peluang baru. LG Energy kini mulai mengalihkan lebih banyak kapasitas produksinya untuk memenuhi permintaan penyimpanan energi, terutama dari Amerika Serikat yang tengah gencar membangun infrastruktur jaringan listrik hijau.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Sutomo
Sumber: bloomberg.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top