KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan listrik, gangguan infrastruktur, hingga makin rumitnya sistem energi disebut sebagai pemicu utama blackout. Dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas rumah tangga, tapi juga menghantam sektor industri: proses produksi terhambat, biaya operasional membengkak, dan rantai pasok terganggu.
Menurut Feiral, panas bumi memiliki karakter ideal sebagai penopang sistem kelistrikan. Sumber energi ini bisa beroperasi 24 jam non-stop, tidak bergantung pada cuaca, dan cocok dijadikan baseload.
“Panas bumi bisa menjadi salah satu opsi strategis untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional, terutama sebagai bagian dari antisipasi risiko blackout,” ujar Feiral kepada media, Selasa (7/7).
Indonesia memiliki cadangan panas bumi 24 GW, setara 40 persen dari total cadangan dunia. Namun, pemanfaatannya masih jauh panggang dari api. Dari jumlah itu, baru 2,7 GW yang sudah beroperasi. Artinya, masih ada ruang pengembangan sekitar 21,3 GW yang menganggur.
Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menargetkan kapasitas panas bumi mencapai 5,2 GW. Angka ini dinilai ambisius namun sejalan dengan arah transisi energi nasional. Feiral menambahkan, tambahan kapasitas sekitar 2,5 GW dalam satu dekade ke depan sangat mungkin dikejar.
“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” kata Feiral.
Meski prospeknya cerah, pengembangan panas bumi masih terganjal sejumlah persoalan klasik. Investasi awal yang besar, tarif keekonomian yang belum kompetitif, proses perizinan yang berbelit, serta kesiapan infrastruktur jaringan listrik menjadi hambatan utama.
Feiral menilai, tanpa intervensi kebijakan yang kuat, target pengembangan panas bumi hanya akan menjadi wacana. Ia mendorong pemerintah untuk menyusun skema pembagian risiko eksplorasi, menyediakan pembiayaan jangka panjang, menyederhanakan perizinan, serta menyinkronkan perencanaan pembangkit dengan jaringan transmisi nasional.
“Kalau bicara mitigasi blackout, panas bumi sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu opsi dalam portofolio ketahanan listrik nasional. Kuncinya bukan memilih satu teknologi saja, tetapi membangun sistem kelistrikan yang lebih tangguh, tersebar, fleksibel, dan memiliki cadangan yang memadai,” tegasnya.
Digitalisasi jaringan, pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), dan penyediaan pembangkit cadangan juga disebut sebagai elemen pelengkap yang tak kalah penting dalam sistem ketahanan listrik nasional.