KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Bank Indonesia (BI) memberikan sinyal waspada terhadap potensi kenaikan inflasi pada Agustus 2026. Dalam rilis survei konsumen terbaru, Rabu (9/7/2026), indeks yang mengukur ekspektasi harga tiga bulan ke depan menunjukkan tren peningkatan.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan IEH Agustus 2026 tercatat di level 178,0. Angka ini lebih tinggi dibandingkan posisi Juli 2026 yang sebesar 175,8.
"Peningkatan ini didorong oleh kenaikan harga bahan baku," ujar Ramdan dalam keterangan resmi di Jakarta. Bagi pelaku industri manufaktur dan pengolahan, sinyal ini berarti biaya input produksi tengah berada dalam tren naik, yang berpotensi menekan margin jika tidak diimbangi kenaikan harga jual.
Meski demikian, tekanan harga diprakirakan mereda jelang akhir tahun. IEH November 2026 diproyeksikan sebesar 167,5, relatif stabil dibandingkan Oktober 2026 yang sebesar 167,6. Angka ini menunjukkan ekspektasi masyarakat terhadap harga barang dan jasa pada periode Natal dan Tahun Baru cenderung terkendali.
Dari sisi konsumsi, data penjualan eceran menunjukkan daya beli masyarakat masih solid. Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2026 diprakirakan sebesar 221,6. Kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan tahunan pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori serta Perlengkapan Rumah Tangga Lainnya.
Secara bulanan, penjualan eceran Juni 2026 memang terkontraksi tipis 0,8% (mtm). Namun, kontraksi ini lebih dangkal dibandingkan penurunan 1,5% (mtm) pada bulan sebelumnya. BI menjelaskan, perbaikan ini dipengaruhi oleh dimulainya periode libur sekolah pada akhir Juni yang mendorong belanja masyarakat.
Untuk data historis, pada Mei 2026 IPR tercatat di angka 223,4. Kinerja tersebut ditopang oleh penjualan tahunan yang tetap tumbuh pada Kelompok Suku Cadang dan Aksesori, Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (BBM), serta Barang Budaya dan Rekreasi.
Penjualan eceran pada Mei 2026 secara bulanan turun 1,5% (mtm). Namun, angka ini merupakan perbaikan signifikan dibandingkan realisasi April 2026 yang ambles hingga 11,6% (mtm). Menurut BI, pemulihan ini dipengaruhi oleh permintaan masyarakat pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Kenaikan Yesus Kristus, Iduladha, dan Waisak.
Bagi investor ritel, data ini menjadi indikasi bahwa sektor konsumen dan ritel masih memiliki fundamental yang terjaga di tengah tekanan biaya produksi. Namun, kenaikan harga bahan baku patut dicermati karena berpotensi mengerek inflasi inti dalam beberapa bulan ke depan.