KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — “Saya ikut Month Offline, dan saya kaget, ‘Kok tiba-tiba rasa cemas hilang? Apa saya benar-benar merasa lebih baik?’” kata Lydia Peabody, mantan terapis berlisensi yang kini menjabat sebagai CMO pendiri Dumb Co, kepada TechCrunch. Peabody mengaku tak sadar bahwa kebiasaan menatap layar setelah jam kerja selama ini membuatnya merasa tidak nyaman secara mental.
Dumb Co lahir dari komunitas Month Offline, tantangan di mana sekelompok kecil orang menukar smartphone mereka dengan ponsel lipat. Perusahaan ini didanai keluarga dan teman, dijalankan tim muda berusia 20-an hingga awal 30-an. Mereka muak dengan gaya hidup serba cepat dan tanpa jeda yang dibawa perangkat pintar modern.
Tidak seperti tren digital detox ekstrem yang meminta Anda membuang smartphone, Dumb Co menawarkan pendekatan berbeda. Ponsel lipat mereka—disebut Dumb Phone—disinkronkan dengan iPhone atau Android Anda. Panggilan dan teks bisa dialihkan, sementara aplikasi seperti WhatsApp, Spotify, Apple Music, dan Uber tetap bisa diakses langsung dari ponsel lipat tersebut.
Pengguna bahkan bisa mengakses iMessage lewat aplikasi pihak ketiga. “Kami mencoba membuat sesuatu di mana Anda bisa meninggalkan smartphone di rumah dan benar-benar menjalani hidup serta berinteraksi dengan orang lain,” ujar Afreka Ebanks, direktur komunikasi Dumb Co. “Dan saat Anda pulang dan ingin menggunakan smartphone, Anda bisa mengaktifkannya kembali.”
TechCrunch menghabiskan waktu lebih dari sebulan menguji Dumb Phone. Awalnya, perangkat ini terasa lambat dan merepotkan—mengetik pesan dengan metode T9 jelas lebih lama dibanding keyboard QWERTY iPhone. Namun, ada sensasi menyegarkan saat tahu bahwa membuka media sosial, memotret foto yang tak akan pernah dilihat lagi, atau mengecek email adalah hal yang mustahil dilakukan.
“Saya mulai sering mengobrol dengan orang asing di jalan. Mereka penasaran melihat ponsel saya,” kata Ebanks yang menghias ponsel lipatnya dengan manik-manik. “Ini jadi pemantik percakapan yang luar biasa. Saya tidak lagi sibuk menunduk melihat layar.”
Peabody menantang jurnalis TechCrunch untuk benar-benar meninggalkan iPhone di rumah. “Saya ingin Anda melakukan ini, karena saya tahu ini adalah pengalaman terbaik,” katanya. Peabody sendiri berhasil melakukan perjalanan lintas negara ke New Mexico selama tujuh pekan tanpa menyentuh smartphone sama sekali.
Sang jurnalis sempat khawatir tidak bisa mengecek jadwal bus atau merekam wawancara. Peabody menjawab, “Kamu bisa menulis petunjuk arah sebelum pergi. Dumb Phone bisa merekam audio.” Ketika Anda berkata ‘butuh’, itu hampir sama seperti ‘butuh makanan atau tempat tinggal’. Jika tidak tahu jadwal bus, Anda bisa bertanya pada tetangga di halte.
Dumb Phone bukan untuk semua orang. Perangkat ini tetap bergantung pada smartphone utama untuk sinkronisasi data. Namun, bagi Anda yang merasa kewalahan oleh notifikasi dan ingin hadir lebih penuh dalam setiap momen—tanpa harus memutus hubungan dengan layanan penting—Dumb Phone menawarkan jalan tengah yang realistis.
Di Indonesia, di mana ponsel lipat masih identik dengan perangkat murah untuk pengguna awam, konsep Dumb Co mungkin terdengar asing. Tapi jika tren mindful tech consumption terus tumbuh, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak orang memilih untuk sengaja “menjadi bodoh” demi kesehatan mental yang lebih baik.