KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan, capaian itu diraih di Coex Exhibition Hall, Seoul, pada gelaran KIE 2026. Sebanyak 15 pelaku UMKM binaan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional ikut serta dalam pameran tersebut. Produk yang dipamerkan antara lain kopi specialty, kakao, keripik kentang, buah dan sayuran kering, teh berbahan buah, tepung mocaf, biskuit bebas gluten, garam laut, hingga aneka makanan olahan.
Roesfitawati, Atdag RI Seoul, mengungkapkan bahwa komoditas kopi specialty, kakao, dan keripik kentang olahan menjadi primadona dalam sesi penjajakan bisnis. "Hasil business matching menunjukkan tingginya minat pembeli setempat terhadap produk-produk Indonesia yang berkualitas, bernilai tambah, dan mampu memenuhi standar pasar internasional," ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.
Atdag RI Seoul memfasilitasi total 35 sesi penjajakan bisnis (business matching) yang berlangsung secara intensif sebelum dan sesudah pameran. Skema ini dinilai efektif untuk menjembatani eksportir Indonesia dengan importir Korea Selatan secara langsung.
Indonesia memanfaatkan momentum KIE 2026 untuk mengumumkan rencana pendirian Indonesia House of Beans (IHoB) pertama di Korea Selatan. Pusat promosi kopi specialty ini direncanakan berlokasi di Seoul dan mulai beroperasi pada akhir 2026.
"Indonesia House of Beans diharapkan menjadi sarana promosi kopi specialty Indonesia sekaligus wadah konkret bagi eksportir untuk membangun jejaring bisnis yang lebih luas dengan importir, pemilik kedai kopi, dan pelaku industri kopi di Korea Selatan," jelas Roesfitawati. Langkah ini dinilai strategis mengingat budaya minum kopi di Korea Selatan yang terus tumbuh.
Wakil Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Ali Andika Wardhana, menilai partisipasi Indonesia di KIE 2026 merupakan langkah strategis memperkuat promosi produk bernilai tambah. "Indonesia tidak hanya mempromosikan produk unggulan nasional, tetapi juga membuka peluang kerja sama dagang yang lebih luas dengan para importir Korea Selatan," kata Ali.
Data Kemendag menunjukkan, total perdagangan Indonesia dengan Korea Selatan pada Januari-Mei 2026 mencapai 7,61 miliar dolar AS. Pada periode yang sama, nilai ekspor Indonesia ke Korea Selatan tercatat 4,05 miliar dolar AS, sementara impor Indonesia dari Korea Selatan sebesar 3,56 miliar dolar AS. Sepanjang 2025, total perdagangan kedua negara mencapai 18,04 miliar dolar AS dengan surplus di pihak Indonesia sebesar 2,24 miliar dolar AS.
Bagi pelaku bisnis dan investor, tren peningkatan ekspor pangan olahan ke Korea Selatan membuka celah diversifikasi pasar nontradisional. Produk dengan nilai tambah seperti kopi specialty dan makanan ringan premium memiliki potensi marjin lebih tinggi dibandingkan komoditas mentah.