Riset Deloitte: Minat ke Mobil Bensin di Indonesia Turun Drastis, Tapi 55% Konsumen Belum Beralih

Penulis: Ragil  •  Rabu, 22 Juli 2026 | 09:38:01 WIB
Lebih dari separuh konsumen Indonesia masih memilih mobil bensin sebagai kendaraan utama, menurut riset Deloitte 2026.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Hasil riset Deloitte 2026 Global Automotive Consumer Study: Southeast Asia Perspectives menunjukkan pergerakan yang tidak lazim di pasar otomotif Indonesia. Di tengah tren global menuju elektrifikasi, preferensi konsumen Tanah Air terhadap kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) justru mencatat penurunan paling curam di kawasan Asia Tenggara.

Penurunan Minat ICE Tertajam di Asia Tenggara

Survei yang menjaring 6.013 responden di enam negara—termasuk lebih dari 1.000 orang Indonesia—mencatat minat terhadap ICE di Indonesia turun 7 poin persentase dibandingkan survei tahun sebelumnya. Angka ini kontras dengan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam yang justru mencatat kenaikan preferensi terhadap mobil bensin pada periode yang sama.

Meski demikian, realitas saat ini masih jauh dari kata dominasi kendaraan listrik. Sebanyak 55 persen konsumen Indonesia masih memilih ICE sebagai pilihan utama. Sementara itu, minat terhadap kendaraan hybrid dan listrik (NEV) tumbuh ke angka 42 persen—peringkat ketiga di Asia Tenggara di bawah Thailand dan Singapura.

Tiga Tembok Penghalang Adopsi Kendaraan Listrik

Deloitte mengidentifikasi tiga faktor utama yang membuat mayoritas konsumen Indonesia belum beralih ke kendaraan energi baru (NEV):

  • Akses pengisian daya — kekhawatiran utama calon pembeli
  • Faktor biaya — harga beli dan biaya perawatan masih dianggap tinggi
  • Kesiapan infrastruktur pendukung — ketersediaan stasiun pengisian dan bengkel spesialis

Data soal infrastruktur pengisian daya menjadi temuan paling kritis. Sebanyak 61 persen calon pembeli NEV di Indonesia berharap bisa mengisi daya di rumah. Angka ini mengindikasikan bahwa kepercayaan terhadap infrastruktur publik—Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU)—masih sangat rendah.

Harapan vs Realitas Infrastruktur Pengisian

Harapan untuk mengisi daya di rumah menjadi sinyal jelas bagi pabrikan dan pemerintah. Jika mayoritas konsumen menginginkan solusi pengisian domestik, maka pengembangan SPKLU saja tidak cukup tanpa insentif pemasangan charger rumahan yang terjangkau. Saat ini, biaya instalasi wallbox di rumah masih menjadi pertimbangan tambahan yang memberatkan calon pembeli.

Dengan 55 persen konsumen masih bertahan di mobil bensin dan 42 persen mulai melirik NEV, pasar Indonesia berada di persimpangan. Penurunan minat ICE yang tajam menunjukkan kesadaran akan elektrifikasi mulai terbentuk, namun eksekusi infrastruktur dan kebijakan harga belum mampu menjawab ekspektasi konsumen di lapangan.

Reporter: Ragil
Sumber: otomotif.sindonews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top