BELITUNG — Setelah terpukul pada 2024, roda ekonomi Kabupaten Belitung akhirnya menunjukkan denyut yang lebih hidup. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku melonjak dari Rp14,12 triliun menjadi Rp15,24 triliun sepanjang tahun lalu.
Pertumbuhan 4,06 persen itu sekaligus memutus tren negatif. Pada 2024, ekonomi Negeri Laskar Pelangi ini hanya tumbuh 1,85 persen, jauh di bawah 5,74 persen yang diraih pada 2023.
Struktur ekonomi Belitung masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam. Pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 27,10 persen terhadap perekonomian daerah.
Industri pengolahan menyusul di posisi kedua dengan andil 12,67 persen. Artinya, denyut ekonomi lokal sangat ditentukan oleh aktivitas produksi dan pengolahan komoditas, bukan sektor jasa atau perdagangan modern.
Luas wilayah Belitung yang mencapai 2.269,36 kilometer persegi dengan bentang kepulauan serta garis pantai panjang menjadi modal utama penopang sektor tersebut.
Tekanan inflasi di Tanjungpandan pada 2025 tercatat 1,44 persen, turun dari 1,68 persen pada tahun sebelumnya dan jauh lebih rendah dibandingkan 3,80 persen pada 2023. Namun, angka agregat itu menyimpan catatan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 4,68 persen. Ini berarti kebutuhan pokok yang bersentuhan langsung dengan keseharian warga masih mengalami tekanan harga signifikan, meski inflasi umum terkendali.
Ketergantungan pada sektor primer menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Jika hasil pertanian dan perikanan hanya dijual sebagai bahan mentah, nilai ekonomi terbesar berpotensi dinikmati di luar daerah.
Pemerintah daerah dituntut memperbesar nilai tambah melalui industri pengolahan dan hilirisasi. Produksi lokal yang mampu diolah menjadi produk jadi atau setengah jadi akan memperpanjang rantai ekonomi dan membuka lapangan kerja lebih luas.
Pertumbuhan 4,06 persen seharusnya tidak berhenti sebagai kabar baik di atas kertas. Momentum ini harus diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli, penguatan UMKM, dan harga kebutuhan pokok yang tetap terjangkau.
Belitung boleh tumbuh. Tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu terasa sampai ke meja makan masyarakat. (wah)