KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Di awal 2000-an, Agus sempat kebingungan membiayai sekolah kedua anaknya karena tak punya tabungan. Ia terpaksa menjadi tukang ojek, lalu bekerja sebagai satpam. Dari penghasilan tetap itulah ia mulai menyusun rencana bisnis kontrakan dan kos-kosan.
Pada 2013, seorang karyawan BRI Rawa Belong memperkenalkannya pada pinjaman pertama sebesar Rp100 juta. Agus membangun kos-kosan di Kebon Jeruk dan Ciledug. "Saya belikan tanah di sekitar Jalan Karyawan II, Karang Tengah, Cileduk. Kalau laku saya jual, kalau enggak laku saya kontrakin," kenangnya.
KPP: Bunga 6 Persen, Tanpa Agunan, Cicilan Ringan
Terbaru, Agus memanfaatkan Kredit Program Perumahan (KPP) BRI senilai Rp100 juta dengan tenor dua tahun. Cicilannya hanya Rp4,4 juta per bulan — lebih ringan dibanding pinjaman sebelumnya yang bunganya 11-12 persen dengan cicilan Rp5,1 juta untuk nominal dan tenor sama.
"Bunganya sangat menolong cuma 6 persen, enggak terlalu besar. Disubsidi pemerintah 5 persen dari yang seharusnya 11-12 persen. Tanpa agunan," jelas Agus. Ia mengaku mendapatkan informasi program itu dari mantri BRI langganannya, Eko.
Dana segar itu ia pakai membangun enam pintu kos-kosan baru. Sewa per pintu Rp1 juta per bulan. Dengan asumsi penuh, pendapatan Rp6 juta per bulan masih lebih dari cukup menutup cicilan Rp4,4 juta. "Dari usaha mana saja sudah ketutup," ujarnya.
Omzet Rp60 Juta Per Bulan dari Beragam Usaha
Tak hanya kos-kosan, Agus merambah bisnis sampingan: agen sembako, pangkalan LPG, agen minuman mineral, agen plastik, es kacang merah, parkiran, hingga perkebunan. Total omzet semua usahanya tembus lebih dari Rp60 juta per bulan.
Di Desa Gunung Malang, Sukabumi, ia mengelola lahan 8 hektare untuk pisang, cabai rawit, dan jeruk limau. "Ada yang saya beli tanah, ada yang sewa, ada yang kerja sama bagi hasil," imbuhnya.
Sejak 2013 hingga 2025, Agus sudah meminjam total sekitar Rp500 juta dari BRI, mencakup KUR, Kupedes, dan KPP.
Program Pemerintah Akselerasi 3 Juta Rumah
Regional Micro Banking Head BRI RO Jakarta 3, Oloan Susanto Nasution, menjelaskan KPP adalah pengembangan dari KUR yang diluncurkan akhir 2025. Program ini mengakselerasi target 3 juta rumah pemerintahan Prabowo-Gibran.
"Yang unik, nasabah yang sudah layak kredit komersial seperti Kupedes tetap bisa menikmati KPP. Syaratnya usaha sudah berjalan enam bulan dan menguntungkan," kata Oloan. Plafon pinjaman mulai Rp10 juta hingga Rp500 juta, tenor maksimal lima tahun, tanpa agunan.
Skema peruntukannya tetap untuk usaha produktif properti: kos-kosan, kontrakan, atau mengupgrade tempat usaha. Dengan bunga 6 persen dan subsidi pemerintah, KPP menjadi jembatan bagi pelaku UMKM properti untuk naik kelas.