KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Laga final di London, Inggris, pekan lalu berakhir dengan dramatis. Kedua tim bermain imbang 1-1 hingga perpanjangan waktu, sebelum PSG keluar sebagai pemenang lewat drama tos-tosan 4-2.
Sepanjang turnamen, Arsenal belum pernah kalah dalam 90 menit pertandingan. Catatan itu tetap terjaga hingga laga final. Namun, kegagalan di babak adu penalti membuat rekor impresif itu terasa hambar.
Pelatih Mikel Arteta mengakui rasa kecewa yang mendalam. “Kami dominan di banyak bagian pertandingan, menciptakan peluang, tapi sepak bola kadang kejam. Adu penalti adalah lotere,” ujarnya dalam konferensi pers usai laga.
PSG unggul lebih dulu melalui penalti Kylian Mbappe di menit ke-28. Arsenal baru bisa menyamakan kedudukan di babak kedua lewat aksi Martin Odegaard. Skor 1-1 bertahan hingga 120 menit.
Statistik mencatat Arsenal unggul penguasaan bola (62%) dan jumlah tembakan (16 berbanding 9). Namun, efektivitas di depan gawang jadi masalah. Kiper PSG, Gianluigi Donnarumma, tampil gemilang dengan melakukan lima penyelamatan krusial.
Dalam adu penalti, dua penendang Arsenal gagal menunaikan tugasnya. Bukayo Saka dan Declan Rice gagal memperdaya Donnarumma. Di kubu PSG, hanya Ousmane Dembele yang gagal, namun itu tak cukup menyelamatkan Arsenal.
Kegagalan ini membuat Arsenal gagal mengulang prestasi musim 2005-2006 saat menjadi runner-up. Musim itu pun, mereka tercatat tak terkalahkan hingga final sebelum kalah dari Barcelona.
Ini menjadi kekalahan kedua Arsenal di partai final Liga Champions. Sejak era Arteta, tim asal London Utara ini memang konsisten tampil di kompetisi Eropa, tapi belum pernah sekalipun merasakan trofi Si Kuping Besar.
“Kami harus belajar dari ini. Kekecewaan ini akan menjadi bahan bakar untuk musim depan,” tambah Arteta. The Gunners kini harus fokus mengejar gelar Premier League yang musim ini masih dalam persaingan ketat.