KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Berbeda dengan aplikasi ride-hailing pada umumnya yang menggunakan algoritma penetapan harga sepihak, InDriver mengembalikan kendali tarif kepada pengguna. Penumpang cukup memasukkan tujuan dan menawarkan harga yang dianggap wajar. Sopir yang tertarik bisa langsung menerima, menolak, atau mengajukan harga tandingan.
Setelah tawaran masuk dari beberapa pengemudi, penumpang bebas memilih berdasarkan empat kriteria: harga termurah, rating sopir, tipe kendaraan, atau waktu kedatangan tercepat. Sistem ini disebut "Real-Time Deals" dan dinilai cocok dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar bertransaksi dengan sistem tawar.
Dari sisi pengemudi, InDriver hanya memotong komisi 10 hingga 15 persen dari tarif yang disepakati. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan kompetitor yang biasanya mengambil 20 sampai 25 persen. Alhasil, meski tarif yang dinegosiasikan mungkin lebih rendah dari harga pasar, pendapatan bersih yang dibawa pulang sopir tetap lebih besar.
Model ini memberi otonomi kerja bagi pengemudi. Mereka tidak dipaksa menerima orderan dengan jarak jemput terlalu jauh atau tarif yang merugikan. Keputusan sepenuhnya ada di tangan sopir setelah melihat tawaran dari penumpang.
Bagi penumpang, keuntungan utama adalah kepastian biaya. Tidak ada biaya tersembunyi atau lonjakan tarif mendadak saat hujan atau jam sibuk. Harga yang disepakati di awal adalah harga final yang harus dibayar.
Meski mengusung konsep negosiasi, fitur keselamatan tetap menjadi prioritas. Pengguna dapat membagikan lokasi perjalanan secara real-time kepada keluarga atau teman. Proses tawar-menawar juga menciptakan interaksi yang lebih personal antara penumpang dan sopir, berbeda dengan transaksi yang sepenuhnya diatur mesin.
Sejak pertama kali diluncurkan secara resmi, InDriver—yang kini melakukan rebranding menjadi inDrive—telah berekspansi ke lebih dari 700 kota di 45 negara. Di Indonesia, kehadirannya menjadi angin segar bagi konsumen yang mulai jenuh dengan tarif standar aplikator besar.