KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Ketua Umum PSSI Erick Thohir menegaskan bahwa strategi ini bukan sekadar wacana. Dalam pernyataannya di Yogyakarta, Rabu, 8 Juli 2026, ia menyebut pembinaan usia dini menjadi kunci agar Indonesia tak terus tertinggal dari negara-negara Asia yang pemainnya sudah dominan di Eropa.
Erick mengakui selama ini perhatian lebih banyak tersedot ke kelompok umur U-20 dan U-23. Menurut dia, pendekatan itu sudah tidak relevan jika Indonesia ingin bersaing di Piala Dunia.
"Karena kalau kita hanya fokus di U-20 dan U-23, (nanti) telat," ujar Erick.
Ia mencontohkan negara-negara peserta Piala Dunia dari Asia yang sudah memulai pembinaan pemain sejak usia sangat muda. Jepang disebut sebagai salah satu model karena banyak pemainnya berkarier di kompetisi Eropa.
Rencana pembinaan ini akan berada di bawah kendali Direktur Teknik PSSI Alex Zwiers. Erick mengatakan struktur pelatih kelompok umur yang menangani U-17 dan U-15 akan memiliki formula tersendiri yang tidak disamakan dengan tim senior.
"Nanti di bawah technical director Alex dan struktur dibawahnya yang coaching U-17 dan U-15 itu akan punya formula tersendiri," kata Erick.
Program ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang yang hasilnya diperkirakan baru terlihat dalam satu dekade ke depan. Namun, pembangunan infrastruktur pusat latihan akan dimulai lebih dulu.
Erick menyebut realisasi pusat latihan membutuhkan dukungan pemerintah pusat dan daerah. Sebab, penyediaan sarana dan prasarana latihan berada di wilayah masing-masing.
"Nanti kita lihat, karena ini tidak hanya komitmen PSSI tetapi juga pemerintah pusat dan daerah karena fasilitas kan pasti ada di daerah," jelas Erick.
Yogyakarta disebut sebagai salah satu daerah yang berpotensi menjadi lokasi pusat latihan. Namun, keputusan akhir tetap bergantung pada kesiapan pemda dan pemangku kepentingan setempat.
Langkah PSSI ini juga merespons keputusan FIFA yang akan menggelar kejuaraan dunia kelompok usia U-15. Erick menilai Indonesia tidak punya pilihan selain memperkuat sistem pembinaan pemain usia dini.
"Artinya kalau semua negara sudah berinvestasi di kelompok umur yang lebih muda, sedangkan kita asyik sendiri di senior terus, kita akan tertinggal," ujar Erick.
Ia berharap dari kelompok usia U-13 dan U-15 nantinya lahir bibit-bibit yang bisa bermain di Eropa. Menurut dia, hal itu bisa menjadi semacam asuransi bagi Timnas Indonesia di masa depan, seperti yang dilakukan Jepang.