SUNGAILIAT — DLH Kabupaten Bangka tidak hanya mengandalkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk menangani masalah sampah. Sejumlah TPS3R dan Rumah Kompos yang tersebar di beberapa kecamatan kini diperkuat perannya sebagai garda depan pengelolaan sampah berbasis komunitas.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Bangka, Feggy Vera Lusianti, mengatakan keberadaan KSM TPS3R menjadi kunci dalam mengurangi sampah langsung dari sumbernya. Fasilitas yang sudah disediakan pemerintah, menurutnya, harus dimanfaatkan maksimal oleh warga.
"Peran aktif masyarakat sangat penting untuk mengurangi sampah dari sumbernya, karena fasilitas pengelolaan sampah sudah disediakan," kata Feggy di Sungailiat, Kamis.
DLH Bangka mencatat setidaknya ada enam TPS3R yang aktif beroperasi. Lokasinya tersebar di Kecamatan Sungailiat, Puding Besar, Bakam, dan sekitarnya.
Feggy merinci, TPS3R tersebut berada di Srimenanti (Sungailiat), Puding (Puding Besar), Bakam, Pugul, Senang Hati, dan Lingkungan Nelayan 2. Masing-masing dikelola oleh KSM yang mendapat pendampingan dari pemerintah daerah.
Sistem TPS3R sendiri merupakan pengelolaan sampah skala kawasan yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat. Sampah yang masuk akan dipilah, kemudian sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik didaur ulang.
Selain TPS3R, DLH Bangka juga mengoperasikan Rumah Kompos di dua lokasi, yaitu Lingkungan Matras dan Desa Rebo. Kedua tempat ini telah dilengkapi sarana dan prasarana pendukung untuk memproduksi pupuk alami.
Bahan baku utama Rumah Kompos berasal dari sampah organik seperti daun kering dan bahan alami lainnya. Hasil pengolahan ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA, tetapi juga memiliki nilai ekonomi.
"Pemanfaatan sampah alami untuk pembuatan kompos tidak hanya berdampak mengurangi volume sampah, namun juga memberikan dampak kontribusi ekonomi masyarakat karena pupuk kompos dan dijual ke masyarakat petani," jelas Feggy.
Penguatan peran TPS3R dan Rumah Kompos ini menjadi strategi DLH Bangka untuk mengurangi ketergantungan pada TPA. Dengan pemilahan yang dimulai dari tingkat rumah tangga, volume sampah yang harus diangkut ke tempat pembuangan akhir bisa ditekan secara signifikan.
Feggy menambahkan, pihaknya terus mendorong pembentukan KSM baru di wilayah yang belum memiliki fasilitas serupa. Harapannya, setiap kawasan bisa mandiri dalam mengelola sampahnya sendiri.