BANGKA — Proses pencarian selama dua hari terhadap Radit (35), penambang pasir timah yang dilaporkan hilang diterkam buaya, akhirnya menemui titik terang. Tim SAR gabungan dari Kantor Basarnas Pangkalpinang dan Polsek Merawang menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia di perairan Sungai Baturusa, Senin (20/7/2026).
Korban yang diketahui merupakan warga asal Selapan, Provinsi Sumatera Selatan, pertama kali dilaporkan hilang pada Minggu (19/7/2025). Ia diduga diterkam buaya saat tengah mencuci tangan di pinggir sungai usai memindahkan ponton tambang.
Kronologi Kejadian: Hilang Saat Mencuci Tangan di Pinggir Sungai
Menurut keterangan rekan-rekan korban, peristiwa nahas itu terjadi saat Radit tengah beraktivitas memindahkan ponton tambang di aliran Sungai Baturusa. Setelah selesai, ia mendekati tepian sungai untuk mencuci tangan.
“Tiba-tiba ia menghilang. Rekan-rekan korban menduga ia diterkam buaya,” ujar Supani, Kepala Tim Pencarian Kantor Basarnas Pangkalpinang. Kejadian tersebut segera dilaporkan ke Polsek Merawang dan Kantor SAR Pangkalpinang untuk dilakukan pencarian.
Proses Evakuasi: Buaya Lepaskan Gigitan Saat Tim SAR Melintas
Upaya penyisiran yang dilakukan oleh tim SAR gabungan sejak Minggu akhirnya membuahkan hasil pada keesokan harinya. Momen dramatis terjadi saat tim menggunakan perahu karet (rubberboat) milik Basarnas untuk menyisir lokasi kejadian.
“Predator buas tersebut akhirnya melepaskan gigitannya, dan tubuh korban ditemukan mengapung di permukaan air, tidak jauh dari posisi perahu karet yang sedang melakukan penyisiran,” jelas Supani.
Tim SAR kemudian mengevakuasi jasad korban dari sungai dan membawanya ke darat untuk proses identifikasi dan penyerahan kepada pihak keluarga.
Imbauan Keselamatan bagi Penambang di Perairan Merawang
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya aktivitas di perairan yang menjadi habitat buaya muara. Sungai Baturusa di Kecamatan Merawang dikenal sebagai salah satu aliran sungai di Bangka yang kerap dijadikan lokasi penambangan pasir timah, namun juga merupakan habitat reptil buas tersebut.
Pihak Basarnas Pangkalpinang mengimbau para penambang dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar aliran sungai untuk selalu waspada terhadap keberadaan satwa liar, terutama buaya yang kerap muncul ke permukaan. “Kami mengingatkan agar tidak melakukan aktivitas sendirian di tepian sungai, khususnya di lokasi yang dikenal sebagai habitat buaya,” pungkas Supani.