PANGKALPINANG — Alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, karet, tambang, dan pemukiman warga disebut menjadi biang keladi menyusutnya populasi rambutan hutan di Pulau Bangka. Kondisi ini memicu langkah konkret pelestarian yang melibatkan lembaga riset nasional.
Ketua Tim Kebun Raya Tua Tunu, Sugiantoro, mengungkapkan bahwa kerja sama dengan BRIN ini merupakan upaya serius agar tanaman endemik tersebut tidak hilang dari bumi Bangka Belitung.
"Kita bersama BRIN melakukan penelitian untuk melestarikan kembali tanaman endemik rambutan hutan," kata Sugiantoro di Pangkalpinang, Jumat.
Hanya Tiga Pohon Tersisa di Kebun Raya
Jumlah yang tersisa sangat kritis. Kebun Raya Tua Tunu saat ini hanya memiliki tiga pohon rambutan hutan. Dua di antaranya berjenis kelamin jantan dan betina, sehingga peluang regenerasi alami tetap terbuka, namun butuh intervensi serius.
"Saat ini, Kebun Raya Tua Tunu hanya memiliki tiga pohon rambutan hutan dan ini harus dijaga, dilestarikan agar tanaman endemik ini tidak punah," ujarnya.
Bentuk Fisik Berbeda dari Rambutan Biasa
Dari segi morfologi, rambutan hutan memiliki keunikan tersendiri. Buahnya nyaris mirip dengan rambutan pada umumnya, tetapi kulit luarnya lebih tajam dengan duri-duri kecil yang lebih rapat.
"Buah rambutan hutan ini hampir sama bentuknya dengan rambutan biasa, tetapi kulit luar rambutan hutan ini tajam berbentuk duri-duri kecil," kata Sugiantoro.
Bukan Proyek Pertama: Manggis Kelabang Pernah Dinyatakan Punah
Ini bukan kali pertama BRIN meneliti flora langka di kawasan tersebut. Sebelumnya, lembaga riset itu juga melakukan penelitian terhadap manggis kelabang (garcinia klabang), tanaman buah langka khas Pulau Bangka yang sempat dinyatakan punah.
Beruntung, spesies tersebut ditemukan kembali di Kebun Raya Tua Tunu. Hasil penelitian BRIN terhadap manggis kelabang pun dinyatakan berhasil dan kini tengah memasuki tahap pengembangan serta pelestarian.
"Alhamdulillah, penelitian BRIN terhadap manggis kelabang berhasil dan saat ini, kami sedang melakukan pengembangan dan pelestarian tanaman endemik manggis kelabang ini," tambah Sugiantoro.
Harapan untuk Generasi Mendatang
Keberadaan rambutan hutan bukan sekadar soal keanekaragaman hayati, tetapi juga identitas flora Pulau Bangka. Sugiantoro menegaskan pentingnya menjaga agar tanaman endemik ini tidak punah dan tetap bisa ditemukan oleh generasi bangsa di daerah ini.
Langkah berikutnya, hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan bibit dan upaya reintroduksi rambutan hutan ke habitat aslinya maupun kawasan konservasi lainnya di Bangka Belitung.