Produsen mobil listrik mewah Lucid Motors resmi menarik panduan target produksi tahunannya seiring upaya perusahaan menekan biaya operasional dan mengatasi penumpukan stok unit. Keputusan ini diambil di tengah transisi kepemimpinan CEO baru dan evaluasi menyeluruh terhadap efisiensi bisnis global mereka. Langkah drastis tersebut menandakan tantangan berat bagi kompetitor Tesla ini dalam menjaga keseimbangan antara ambisi produksi dan permintaan pasar.
Lucid Motors mengumumkan pembatalan proyeksi produksi dan penjualan untuk sisa tahun 2024 dalam laporan pendapatan kuartal pertama yang dirilis Selasa waktu setempat. Langkah ini mengejutkan pasar mengingat pada Februari lalu, perusahaan masih optimistis mampu merakit antara 25.000 hingga 27.000 kendaraan tahun ini. Angka tersebut sebenarnya sudah jauh menyusut dari estimasi awal saat mereka melantai di bursa saham pada 2021 yang mencapai ratusan ribu unit.
Chief Financial Officer Lucid Motors, Taoufiq Boussaid, menegaskan bahwa penarikan panduan ini merupakan "keputusan tata kelola" (governance decision). Saat ini, CEO baru Silvio Napoli tengah melakukan tinjauan mendalam terhadap seluruh aspek bisnis perusahaan. Napoli menekankan bahwa untuk merealisasikan potensi penuh Lucid, diperlukan fokus yang lebih tajam dan eksekusi yang konsisten, terutama dalam hal simplifikasi dan prioritas kerja.
"Sangat jelas bahwa realisasi potensi penuh Lucid akan membutuhkan fokus yang lebih tajam dan eksekusi yang konsisten, terutama seputar simplifikasi, prioritisasi, dan kecepatan," ujar Napoli dalam panggilan konferensi dengan para investor.
Perusahaan juga melaporkan dampak finansial dari pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 12% karyawannya pada Februari lalu. Lucid harus merogoh kocek sekitar $40 juta (sekitar Rp640 miliar) untuk biaya pesangon dan beban jangka pendek lainnya. Meski demikian, manuver efisiensi ini diproyeksikan mampu menghemat pengeluaran perusahaan hingga $500 juta (sekitar Rp8 triliun) dalam beberapa tahun ke depan.
Kinerja kuartal pertama Lucid tercatat lebih buruk dari ekspektasi pasar. Salah satu pemicu utamanya adalah gangguan produksi dan penghentian sementara penjualan (stop-sale) selama 29 hari yang berdampak pada pengiriman SUV Gravity. Masalah ini berakar pada kendala teknis dari pemasok kursi kendaraan yang menghambat distribusi ke konsumen.
Insiden tersebut memperburuk kondisi inventori perusahaan yang kini membengkak. Lucid kini harus berhati-hati dalam mengelola volume produksi agar tidak terjadi penumpukan unit yang melampaui permintaan pasar. Boussaid menyatakan bahwa perusahaan tidak terkendala pada kapasitas pabrik, melainkan pada disiplin untuk tidak membangun stok secara berlebihan.
Di tengah ketidakpastian tahun ini, Lucid tetap berkomitmen pada rencana jangka panjang mereka untuk menghadirkan mobil listrik yang lebih terjangkau. Perusahaan menjadwalkan produksi kendaraan perdana dari platform ukuran menengah (mid-size) pada akhir 2026. Mobil ini diproyeksikan memiliki harga di bawah $50.000 (sekitar Rp800 juta), yang diharapkan mampu menjangkau segmen pasar lebih luas.
Selain fokus pada kendaraan komersial, Lucid mengonfirmasi bahwa proyek layanan robotaxi bersama Uber dan Nuro masih sesuai jadwal. Mereka berencana mulai merakit versi otonom dari SUV Gravity pada kuartal keempat tahun ini. Langkah diversifikasi ke layanan transportasi berbasis AI ini menjadi kartu as Lucid untuk tetap relevan di industri otomotif masa depan yang semakin kompetitif.