Canonical Pulihkan Layanan Ubuntu Usai Lima Hari Serangan DDoS

Penulis: Saiful  •  Rabu, 06 Mei 2026 | 21:53:01 WIB
Canonical berhasil memulihkan layanan Ubuntu setelah serangan DDoS selama lima hari.

Canonical memulihkan seluruh infrastruktur sistem operasi Ubuntu setelah lumpuh selama lima hari akibat serangan siber Distributed Denial of Service (DDoS). Gangguan sejak 1 Mei 2024 ini memutus akses repositori pembaruan keamanan bagi jutaan pengguna Linux global. Tim teknis kini menstabilkan beban kerja sistem guna mencegah degradasi performa bagi administrator server dan pengembang.

Canonical mengonfirmasi seluruh layanan utama ekosistem Ubuntu telah beroperasi normal kembali. Serangan DDoS skala besar ini terdeteksi sejak 1 Mei, meski infiltrasi diduga menyusup sejak akhir April. Selama gangguan, pengguna kehilangan akses ke situs resmi dan repositori perangkat lunak vital.

Tim teknis membutuhkan hampir sepekan untuk membendung banjir lalu lintas data sampah pada server mereka. Meski indikator layanan kini berwarna hijau, perusahaan memperingatkan potensi penurunan performa selama tahap pemulihan beban kerja. Langkah ini dilakukan guna memastikan stabilitas sistem kembali ke titik optimal secara bertahap.

Kelumpuhan Repositori Keamanan dan Dampak bagi Admin IT

Terputusnya akses repositori keamanan utama menjadi dampak paling fatal bagi pengguna. Administrator sistem dan pengembang menghadapi risiko tinggi karena patch keamanan terbaru gagal terunduh tepat waktu. Infrastruktur vital seperti server web dan basis data menjadi sektor yang paling terpukul.

Penyedia layanan cloud dan pusat data lokal di Indonesia mengandalkan mirror server untuk mendistribusikan pembaruan. Server bayangan ini menjadi penyelamat sementara saat jalur utama ke pusat data Canonical terputus total. Namun, sinkronisasi data tetap terhambat selama serangan berlangsung.

"Kami telah menerapkan mitigasi dan memulihkan layanan yang terkena dampak serangan DDoS," tulis pernyataan resmi Canonical. Perusahaan kini memantau situasi ketat guna mencegah serangan serupa melumpuhkan sistem kembali.

Klaim Kelompok Peretas Asal Irak di Balik Gangguan

Kelompok The Islamic Cyber Resistance in Iraq mengklaim bertanggung jawab atas serangan masif ini. Melalui kanal Telegram, mereka menyatakan telah menargetkan infrastruktur Canonical tanpa merinci alasan spesifik. Target terhadap sistem operasi sumber terbuka (open-source) ini memicu tanda tanya besar di kalangan pengamat keamanan siber.

Canonical belum memberikan komentar resmi terkait validitas klaim kelompok tersebut. Motif serangan terhadap distro Linux biasanya berkaitan dengan pemerasan atau gangguan stabilitas global. Namun, hingga kini tidak ada permintaan tebusan yang muncul ke publik.

Pengguna Ubuntu wajib segera mengecek sistem dan memastikan seluruh paket keamanan terperbarui. Jika proses unduh masih lambat, beralih ke mirror server lokal di Indonesia tetap menjadi solusi paling efektif. Langkah ini krusial untuk menutup celah keamanan yang sempat terbuka selama masa gangguan.

Reporter: Saiful
Back to top