KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi angkat bicara soal tekanan terhadap rupiah yang kian dalam. Di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, ia menyebut pemerintah tidak tinggal diam dan telah mengaktifkan forum koordinasi antarlembaga.
“Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah,” ujar Prasetyo, Kamis (4/6).
Pernyataan itu muncul setelah rupiah anjlok ke posisi Rp18.000 per dolar AS, level terlemah dalam beberapa tahun terakhir. Pelemahan ini terjadi di tengah gejolak geopolitik global, termasuk serangan pesawat nirawak Ukraina ke Crimea yang menewaskan empat orang dan melukai sepuluh lainnya.
Prasetyo meminta publik tetap optimistis. Menurutnya, sejumlah indikator makro masih menunjukkan ketahanan ekonomi nasional. “Pertumbuhan ekonomi tetap positif dan inflasi terkendali,” klaimnya.
Pemerintah menilai kondisi fundamental itu menjadi modal menghadapi tekanan eksternal yang masih berlangsung. Koordinasi tiga lembaga—Kemenkeu, BI, dan OJK—disebut sebagai garda depan dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui telah menggelontorkan dana intervensi hingga Rp8 triliun untuk menahan laju pelemahan rupiah. Langkah serupa diperkirakan terus dilakukan seiring volatilitas pasar yang masih tinggi.
Pernyataan optimistis dari Istana belum cukup meredam kekhawatiran pelaku pasar. Ekonom menilai pelemahan rupiah ke Rp18.000 bukan semata sentimen global, tetapi juga dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan fiskal domestik dan arus modal keluar.
“Pemerintah harus menunjukkan aksi nyata, bukan hanya imbauan. Pasar butuh sinyal kenaikan suku bunga acuan atau penerbitan instrumen valas yang kompetitif,” ujar seorang analis pasar uang yang enggan disebut namanya.
Bank Indonesia sendiri belum mengumumkan langkah darurat. Suku bunga acuan BI saat ini masih di level 5,75%, sementara tekanan terhadap rupiah terus meningkat sejak awal pekan.
Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, terutama bahan baku industri dan produk konsumen. Harga elektronik, obat-obatan, dan bahan pangan impor diprediksi naik dalam waktu dekat.
Pemerintah berjanji akan menjaga stok kebutuhan pokok dan mempercepat realisasi belanja negara untuk menjaga momentum pertumbuhan. Namun, tanpa stabilitas nilai tukar, target pertumbuhan ekonomi tahun ini berpotensi terkoreksi.
Mensesneg Prasetyo menutup pernyataannya dengan ajakan untuk tidak panik. “Kami terus monitor dan lakukan langkah-langkah,” ujarnya, tanpa merinci instrumen spesifik yang akan digunakan.