JAKARTA — Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah memasuki fase baru. Militer AS melalui CENTCOM mengklaim telah mengalihkan rute puluhan kapal dagang yang melintasi kawasan tersebut, menyusul pemberlakuan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Hingga Minggu (2/8), CENTCOM telah mengalihkan rute 35 kapal niaga," demikian pernyataan resmi CENTCOM di platform X, yang dikutip Senin.
Selain memaksa kapal berbelok arah, pasukan AS juga melumpuhkan dua kapal dan melakukan penggeledahan terhadap dua kapal lainnya di perairan tersebut.
Kronologi: Dari Gencatan Senjata ke Blokade Total
Ketegangan ini berakar dari perjanjian yang sebenarnya sempat tercapai. Pada 18 Juni, Iran dan AS menandatangani memorandum untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari.
Namun, kesepakatan itu hanya bertahan kurang dari sebulan. Sejak 8 Juli, pasukan AS kembali melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Iran. CENTCOM menyebut operasi tersebut sebagai bentuk balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Respons Iran: Menutup Jalur Minyak Dunia
Teheran tidak tinggal diam. Pasukan Iran merespons dengan melancarkan serangan ke pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di Timur Tengah.
Puncaknya, pada 12 Juli Iran mengumumkan penutupan total Selat Hormuz. Keputusan ini diambil menyusul aksi saling serang yang terus berlanjut antara kedua pihak. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dunia, yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap harinya.
Trump Menyatakan Diri sebagai "Penjaga" Perairan
Sehari setelah penutupan tersebut, Presiden AS Donald Trump mengambil sikap tegas. Pada 13 Juli, Trump menyatakan pihaknya akan berperan sebagai "penjaga" perairan Selat Hormuz. Ia juga secara resmi memberlakukan kembali blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Langkah ini menandakan bahwa Washington tidak akan mundur dari tekanan militer, meskipun ada risiko gangguan terhadap rantai pasok energi global.
Dampak bagi Indonesia dan Harga Energi
Konflik yang terus memanas ini berpotensi mempengaruhi harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM) dan tarif logistik di dalam negeri.
Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri RI mengenai evakuasi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan Teluk. Pemerintah Indonesia sebelumnya telah mengimbau agar WNI di Timur Tengah meningkatkan kewaspadaan dan menghindari area konflik.
Situasi di Selat Hormuz diperkirakan masih akan tegang dalam beberapa pekan ke depan, seiring dengan belum adanya sinyal dialog baru antara kedua negara.