PANGKALPINANG — Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatatkan langkah baru dalam pengamanan pasokan listrik daerah. Proyek Interkoneksi Kelistrikan Sumatera-Bangka Tahap II resmi dimatangkan bersama PT PLN, diproyeksikan menjadi katalisator masuknya investasi besar ke wilayah yang dijuluki Negeri Serumpun Sebalai itu.
Pembahasan komprehensif digelar di Ruang Rapat Tanjung Pesona, Kantor Gubernur Bangka Belitung, Senin (1/9/2026). Plt. Kepala Biro Ekonomi dan Pembangunan Pemprov Babel, M. Yunus, yang hadir mewakili Gubernur Hidayat Arsani, menyebut proyek ini akan membawa kapasitas kelistrikan daerah menembus angka 300 kilovolt.
“Saat ini kita sebetulnya sudah surplus. Dari beban puncak 190 kV, kita masih ada sisa. Dengan tambahan 150 kV nanti, total kapasitas kelistrikan Bangka Belitung akan semakin luar biasa menembus 300 kV. Ini akan memastikan daerah kita tidak akan kesulitan listrik lagi,” jelas Yunus.
Kabel Bawah Laut Hanya 14 Kilometer
Keunggulan utama proyek tahap kedua ini terletak pada efisiensi rute kabel bawah laut yang dirancang jauh lebih pendek dibanding interkoneksi sebelumnya. Jaringan Saluran Kabel Laut Tegangan Tinggi (SKLT) akan melintasi Tulung Selapan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, menuju Desa Marina, sebelum akhirnya mendarat di Desa Permis, Kecamatan Simpang Rimba, Kabupaten Bangka Selatan.
“Jarak tempuh kabel lautnya sangat efisien, hanya 14 kilometer,” kata Yunus menerangkan spesifikasi teknis proyek.
Selain SKLT, proyek ini juga mencakup pembangunan infrastruktur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang menghubungkan sistem kelistrikan antarpulau. Kombinasi dua infrastruktur ini dirancang untuk mengalirkan tambahan pasokan daya sebesar 150 kV secara stabil ke sistem kelistrikan Bangka Belitung.
Mengapa Proyek Ini Penting bagi Investasi Daerah
Kepastian pasokan listrik menjadi salah satu syarat utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal di suatu daerah. Dengan tambahan daya yang hampir dua kali lipat dari beban puncak saat ini, Bangka Belitung tidak hanya mengamankan kebutuhan listrik rumah tangga, tetapi juga membuka peluang pengembangan kawasan industri dan hilirisasi tambang.
Pemprov menargetkan proyek yang tertuang dalam RUPTL 2025–2034 ini mulai beroperasi pada 2028. Hingga saat ini, tahapan pematangan terus berjalan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan lintas provinsi, mengingat jalur kabel bawah laut menembus perairan antara Sumatera Selatan dan Pulau Bangka.
Apa Dampaknya bagi Warga dan Dunia Usaha?
Surplus listrik yang berlipat memberikan efek berantai bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Risiko pemadaman bergilir yang kerap mengganggu proses produksi usaha kecil dan menengah dapat ditekan seminimal mungkin. Industri pengolahan hasil perikanan dan pertanian yang selama ini terkendala biaya operasional genset juga berpeluang menekan ongkos produksi.
Bagi calon investor, kesiapan infrastruktur kelistrikan menjadi sinyal positif bahwa pemerintah daerah serius menyiapkan iklim investasi yang kompetitif. Pemerintah optimistis proyek ini akan berjalan sesuai jadwal sehingga target operasi 2028 dapat terpenuhi.