Pencarian

Stimulasi Anak Cegah Stunting: 10 Permainan Tradisional yang Bisa Dicoba di Rumah

Selasa, 11 Agustus 2026 • 07:34:31 WIB
Stimulasi Anak Cegah Stunting: 10 Permainan Tradisional yang Bisa Dicoba di Rumah
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi meluncurkan buku saku berisi 10 permainan tradisional untuk stimulasi anak cegah stunting di SDN Pusbadaya, Sukabumi, Rabu (29/7).

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Masalah stunting masih menjadi pekerjaan rumah besar di Indonesia. Meski kerap dikaitkan dengan asupan gizi, tumbuh kembang anak yang optimal juga sangat ditentukan oleh stimulasi yang tepat sejak usia dini. Menyadari hal ini, sekelompok mahasiswa Universitas Muhammukiyah Sukabumi (UMMI) berinovasi menghadirkan solusi yang dekat dengan keseharian keluarga.

Lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Margaluyu, Kecamatan Purabaya, Sukabumi, mereka meluncurkan sebuah buku saku bertajuk "10 Permainan Tradisional untuk Stimulasi Anak Bebas Stunting". Peluncuran ini berlangsung pada 29 Juli 2026 di SDN Pusbadaya dan dihadiri langsung oleh para guru PAUD, kader Posyandu, serta orang tua balita setempat.

Mengapa Permainan Tradisional Efektif untuk Tumbuh Kembang Anak?

Permainan seperti engklek, congklak, gobak sodor, bakiak, hingga lompat tali ternyata bukan sekadar hiburan. Berbagai kajian menunjukkan aktivitas ini mampu melatih koordinasi motorik, keseimbangan, hingga kemampuan berpikir dan komunikasi anak. Lebih dari itu, permainan ini juga menanamkan nilai kerja sama dan pembentukan karakter sejak dini.

Wakil Ketua KKN Kelompok 13, Muthia Afrilliya, menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang lebih holistik. "Kami ingin masyarakat memahami bahwa pencegahan stunting bukan hanya tentang memberikan makanan bergizi, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak untuk tumbuh melalui aktivitas bermain yang mendukung perkembangan motorik, sosial, emosional, dan kognitif. Permainan tradisional adalah warisan budaya yang memiliki manfaat besar bagi tumbuh kembang anak," ujarnya.

Buku Saku Praktis untuk Panduan Orang Tua dan Kader

Yang membuat program ini berbeda, buku saku tersebut disusun sebagai panduan praktis yang mudah diterapkan. Setiap permainan dijelaskan secara rinci, mulai dari tujuan, cara bermain, hingga manfaat spesifik bagi perkembangan anak. Para orang tua dan kader Posyandu tidak perlu bingung mencari referensi stimulasi yang murah dan efektif.

Apresiasi datang dari Sela, kader Posyandu Anggrek VI sekaligus orang tua murid. Menurutnya, inisiatif mahasiswa ini sangat membantu karena mengedukasi berbasis kearifan lokal tanpa memerlukan biaya besar. "Buku saku ini bisa menjadi pedoman bagi guru PAUD maupun kader Posyandu dalam memberikan stimulasi kepada anak secara sederhana, murah, dan mudah diterapkan oleh masyarakat," tuturnya.

Sinergi Semua Pihak Kunci Cegah Stunting

Kegiatan sosialisasi ini juga menekankan bahwa pencegahan stunting adalah tanggung jawab bersama. Mahasiswa KKN mengajak keluarga, tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan pemerintah desa untuk berkolaborasi. Materi yang dibahas mencakup pentingnya 1.000 HPK, pemantauan pertumbuhan di Posyandu, hingga pola asuh yang baik.

Melalui pendekatan yang partisipatif dan berbasis potensi lokal ini, Desa Margaluyu diharapkan menjadi contoh bagaimana pelestarian budaya bisa berjalan seiring dengan upaya membangun generasi yang sehat dan cerdas. Inovasi sederhana ini membuktikan bahwa edukasi kesehatan tidak harus selalu mahal, yang terpenting adalah konsistensi dan keterlibatan semua pihak.

Follow belitungsatu.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kompasiana.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks