MENTOK — Tujuh kelenteng di Kabupaten Bangka Barat menggelar ritual Sembahyang Rebut secara serentak mulai Rabu (26/8) hingga Jumat (28/8). Pemerintah kabupaten turun tangan memfasilitasi jalannya tradisi tahunan warga keturunan Tionghoa ini sebagai wujud komitmen melestarikan adat istiadat lokal.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bangka Barat, Muhammad Ferhad Irvan, mengatakan fasilitasi ini diberikan agar masyarakat semakin termotivasi menggelar kegiatan budaya. Dampaknya diharapkan berimbas pada pertumbuhan ekonomi dan daya tarik wisata daerah.
"Kita fasilitasi sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap upaya pelestarian kebudayaan yang ada di masyarakat sekaligus menggerakkan pembangunan sektor pariwisata," ujarnya di Mentok, Rabu (26/8).
Rangkaian Ritual di Tujuh Kelenteng
Pada hari pertama, Rabu (26/8), Sembahyang Rebut digelar di empat lokasi. Empat kelenteng tersebut adalah Kelenteng Bhakti Mulya Pelangas, Kelenteng Amal Bhakti Dusun Anyai, Kelenteng Lay Ngok Bakit, dan Kelenteng Sekarbiru.
Rangkaian kemudian berlanjut pada Kamis (27/8) di Kelenteng Kung Fuk Miaw Mentok dan Kelenteng Bhakti Kelabat. Puncak acara pada Jumat (28/8) berlangsung di Kelenteng Fut Tet Khiung Dusun Tayu.
Makna Ritual Sembahyang Rebut
Sembahyang Rebut merupakan agenda tahunan yang jatuh pada bulan ketujuh tanggal 15 penanggalan kalender China. Warga bersembahyang di kelenteng dengan tujuan mendoakan arwah leluhur yang berada di neraka agar diangkat ke surga.
Prosesi ini disimbolkan melalui pembakaran replika patung dalam rangkaian ritual. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi aset budaya yang masuk dalam pokok pikiran kebudayaan daerah Kabupaten Bangka Barat.
Kolaborasi Budaya dan Pariwisata
Ferhad menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan kelompok masyarakat dalam melestarikan adat lokal. Menurutnya, upaya ini tidak hanya menjaga warisan leluhur tetapi juga membantu mengembangkan kualitas daya tarik wisata daerah.
"Pemerintah berupaya agar pelestarian budaya sejalan dengan upaya meningkatkan kualitas daya tarik wisata, khususnya dari bidang kebudayaan," jelasnya.
Selain Sembahyang Rebut, Bangka Barat memiliki beragam ritus lain yang masih lestari. Beberapa di antaranya sedekah bumi, sedekah gunung, tepung tawar, ceriak nerang, ceriak nelam, taber laot, sembahyang pendam, dan rebo kasan.