Pencarian

Teh Tayu dari Jebus Tembus Pameran di Paris, Sugia Kam Khawatir Petani Makin Beralih ke Sawit

Jumat, 22 Mei 2026 • 10:37:07 WIB
Teh Tayu dari Jebus Tembus Pameran di Paris, Sugia Kam Khawatir Petani Makin Beralih ke Sawit
Sugia Kam memperkenalkan Teh Tayu sebagai produk budaya dari Jebus di Kantor KBO Babel.

PANGKALPINANG — Di Kantor KBO Babel, Kamis (21/5/2026), Sugia Kam membawa secangkir Teh Tayu dan setumpuk cerita. Minuman yang ia perjuangkan sejak 2018 itu bukan sekadar produk lokal, melainkan identitas budaya yang nyaris tergerus.

Teh Tayu berbeda dari teh pada umumnya. Tanamannya tumbuh di dataran rendah, bukan di pegunungan dingin. Hasilnya, kata Sugia, rasa dan aromanya lebih ringan dengan karakter yang sulit ditemukan di produk teh lain.

“Teh Tayu ini bukan sekadar minuman, tetapi bagian dari sejarah dan kekayaan alam Jebus yang harus dijaga bersama. Dari tahun 2018 kami terus berjuang memperkenalkan Teh Tayu hingga sekarang tahun 2026,” ujarnya di hadapan awak media.

Proses Tradisional yang Dipertahankan

Budidaya Teh Tayu masih mengandalkan metode warisan turun-temurun. Mulai dari pemilihan daun, perawatan tanaman, hingga proses pengeringan dilakukan secara alami. Sugia menegaskan, cara ini bukan hanya menjaga kualitas, tapi juga nilai budaya yang melekat.

“Daun teh dipilih secara khusus, kemudian diolah dengan cara tradisional supaya aroma dan rasa khasnya tidak hilang. Ini yang membuat Teh Tayu berbeda,” jelasnya.

Manfaat Ganda: Minuman Sehat dan Pupuk Organik

Selain dipercaya memberikan efek relaksasi dan melancarkan pencernaan, Teh Tayu juga memiliki nilai tambah dari sisi ekonomi. Hasil penelitian laboratorium Polman Sungailiat menunjukkan ampas teh ini bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk pertanian.

“Jadi bukan hanya tehnya yang bermanfaat untuk diminum, tetapi ampasnya juga masih bisa digunakan sebagai pupuk alami. Ini menjadi nilai tambah yang luar biasa,” ungkap Sugia.

Dari Jebus ke Paris, Lalu Ancaman Sawit

Perjalanan Teh Tayu tidak instan. Berawal dari promosi di lingkungan lokal, perlahan produk ini dikenal hingga akhirnya tampil di galeri internasional di Paris. Sugia menyebut pencapaian itu sebagai kebanggaan masyarakat Jebus, bukan sekadar prestasi pribadi.

Namun di balik sorotan itu, jumlah petani teh terus menyusut. Banyak warga beralih menjadi petani kelapa sawit karena alasan ekonomi jangka pendek. Sugia khawatir, tanpa perhatian serius, Teh Tayu bisa punah.

“Sekarang petani Teh Tayu semakin sedikit. Banyak yang beralih ke sawit karena dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi. Kalau tidak ada perhatian serius, kami khawatir Teh Tayu perlahan bisa hilang,” ujarnya prihatin.

Harapan pada Pemda Bangka Barat dan Provinsi

Sugia berharap Pemerintah Kabupaten Bangka Barat dan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung memberikan perhatian lebih, baik dari sisi promosi, pembinaan petani, maupun dukungan pemasaran. Menurutnya, Teh Tayu berpotensi menjadi produk unggulan yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas daerah.

Bagikan
Sumber: mapikornews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks