TANJUNGPANDAN — Inovasi pengolahan limbah batu bara menjadi pupuk organik yang dikembangkan Lapas Pangkalpinang mulai direplikasi ke satuan pemasyarakatan lain. Uji coba kompos FABA dilakukan Kamis (16/7/2026) di kebun sawit milik Lapas Tanjungpandan.
Mengapa FABA Dianggap Solusi Pupuk Ekonomis?
Fly Ash dan Bottom Ash merupakan sisa pembakaran batu bara yang selama ini kerap menjadi masalah lingkungan. Lapas Pangkalpinang mengolahnya menjadi kompos yang dinilai lebih murah dibanding pupuk kimia.
Kegiatan uji coba ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan pembuatan kompos FABA yang sebelumnya diikuti warga binaan Lapas Tanjungpandan dan klien Balai Pemasyarakatan (Bapas) Tanjungpandan.
Dari Pelatihan ke Lahan: Bagaimana Prosesnya?
Warga binaan yang telah mengikuti pelatihan kini langsung mempraktikkan ilmunya di lapangan. Mereka mengaplikasikan kompos FABA pada 10 pohon kelapa sawit yang sudah memasuki masa produktif.
Proses ini menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan. Selain mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, inovasi ini juga diharapkan menekan biaya operasional pertanian di lapas.
Dukung Ketahanan Pangan dari Dalam Tembok Lapas
Program ini sejalan dengan arahan pemerintah pusat untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. Lapas Pangkalpinang mendorong agar inovasi serupa bisa diterapkan di seluruh unit pelaksana teknis pemasyarakatan di Bangka Belitung.
Jika uji coba pada 10 pohon sawit menunjukkan hasil positif, kompos FABA akan diperluas ke lahan pertanian lain di bawah binaan lapas. Langkah ini sekaligus membuktikan bahwa limbah industri bisa diolah menjadi barang bernilai guna.
Artikel ini telah tayang di Suarapos.co.id sebagai sumber pertama.