PANGKALPINANG — Festival Suku Jerieng tahun depan tidak lagi sekadar perayaan adat lokal. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggarapnya sebagai etalase akulturasi budaya yang melibatkan tradisi Tionghoa dan Melayu secara bersamaan.
Kepala Disparbudkepora Provinsi Kepulauan Babel, Wydia Kemala Sari, mengatakan bahwa perpaduan ini akan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. "Pada Festival Suku Jerieng tahun ini (2026) akan dijadikan sebagai satu kesatuan event wisata budaya yang unik dan menarik bagi wisatawan," ujarnya di Pangkalpinang, Sabtu.
Rangkaian Acara: Dari Sedekah Gunung hingga Panen Durian
Festival yang digelar di Desa Pelangas, Kecamatan Simpang Teritip ini akan menyajikan sejumlah atraksi kearifan lokal. Salah satu yang utama adalah ritual Sedekah Gunung Pelangas yang merupakan tradisi turun-temurun Suku Jerieng.
Selain ritual adat, pengunjung juga bisa menikmati wisata kelekak, yakni aktivitas menunggu buah durian jatuh langsung di kebun warga. Tak hanya durian, wisatawan juga diajak memanen duku, manggis, rambutan, serta buah musiman lainnya. Ada pula pengalaman membajak sawah dan menangkap udang di sungai Desa Pelangas.
Akulturasi sebagai Simbol Kerukunan
Pemprov Kepulauan Babel bersama Pemkab Bangka Barat sengaja mengemas festival ini dengan nuansa akulturasi. Menurut Wydia, langkah ini membuktikan bahwa kerukunan antarumat beragama, suku, dan ras di Bangka Belitung terjaga dengan baik.
"Ini akan menjadi sangat menarik, karena tradisi dan kearifan lokal warga Desa Pelangas ini akan dipadukan dengan budaya masyarakat Tionghoa dan Melayu di daerah ini," katanya.
Wydia menambahkan bahwa masyarakat Desa Pelangas masih memegang teguh adat budaya dan kearifan lokal yang dikenal dengan Adat Jerieng. Hal ini menjadi modal utama bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pariwisata ke depan.
Agenda Tahunan yang Kini Ditingkatkan
Festival Suku Jerieng sejatinya sudah menjadi agenda tahunan Pemprov Kepulauan Babel. Namun, dengan penambahan unsur budaya Tionghoa dan Melayu, pemerintah berharap event ini bisa menjangkau pasar wisatawan yang lebih luas, baik domestik maupun mancanegara.
"Masyarakat di Kepulauan Babel khususnya Desa Pelangas masih memegang teguh adat budaya dan kearifan lokal yang dikenal dengan Adat Jerieng. Ini modal utama bagi pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata di daerah ini," pungkas Wydia.