PANGKALPINANG — Kepala Disperindag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Subekti Saputra, mengungkapkan hasil monitoring terbaru menunjukkan stok kedelai di gudang distributor mencapai 390 ton. Jumlah ini dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya para perajin tahu dan tempe di daerah tersebut.
"Saat ini stok kedelai di gudang distributor mencapai 390 ton dan cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Subekti Saputra di Pangkalpinang, Sabtu.
Distribusi Stok di Gudang Penyimpanan
Berdasarkan data yang dihimpun, stok kedelai tersebut tersebar di sejumlah gudang utama. CV Sumber Alam Lestari menjadi penyimpan terbesar dengan 273 ton, disusul Bina Purnama Bersama sebanyak 52 ton, UD Mawar 63 ton, dan Elisabeth sebanyak dua ton.
"Stok kedelai yang terdata ini belum termasuk persediaan di pedagang eceran, sehingga diperkirakan stok kedelai ini mencapai 500 ton," ujar Subekti.
Harga Kedelai Masih Tinggi, Pasokan Laut Lancar
Meski stok melimpah, harga kedelai impor di tingkat pedagang eceran Kota Pangkalpinang masih bertahan di angka Rp14.667 per kilogram. Subekti menjelaskan, harga yang tinggi ini disebabkan oleh mahalnya harga di daerah asal kedelai.
Kendati demikian, harga tersebut belum berdampak pada keberlangsungan usaha tempe dan tahu lantaran ketersediaan bahan baku yang masih berlimpah. "Alhamdulillah, saat ini pasokan kedelai dari luar daerah masih berjalan lancar karena kondisi perairan masih aman untuk pelayaran kapal laut," katanya.
Harga Pangan Lain di Pangkalpinang
Disperindag juga mencatat harga sejumlah bahan pangan lainnya di pasar. Harga tempe bungkus masih bertahan Rp12.000 per bungkus, tahu putih Rp16.000 per kilogram, kacang panjang Rp10.000 per kilogram, kacang hijau Rp28.000 per kilogram, dan kacang tanah bertahan di Rp34.000 per kilogram.
Perajin Tahu Akali Harga Kedelai dengan Perkecil Ukuran
Di sisi lain, para pelaku usaha mulai melakukan penyesuaian untuk menekan biaya produksi. Aep Saefulloh, seorang perajin tahu, mengaku terpaksa memperkecil ukuran tahu yang dijualnya.
"Memang sempat diprotes pedagang eceran, namun itu harus dilakukan mengingat biaya produksi yang meningkat dampak dari harga kedelai yang tinggi," ujarnya.
Ia menambahkan, langkah ini diambil semata-mata untuk mengantisipasi kerugian di tengah kenaikan harga bahan baku yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan.