PANGKALPINANG — Musim kemarau ekstrem yang melanda Kepulauan Bangka Belitung sejak pertengahan tahun memicu peningkatan signifikan kebakaran hutan dan lahan. BPBD setempat mencatat, dari delapan kejadian karhutla yang terjadi sepanjang Juni 2026, seluruhnya berada di Pulau Belitung.
Belitung dan Belitung Timur Jadi Wilayah Terparah
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kepulauan Babel, Sandy Aji, menyebutkan data Pusdalops menunjukkan lahan terbakar seluas 16 hektare tersebar di dua kabupaten tersebut. "Selama Juni tahun ini, kejadian karhutla paling banyak terjadi di Belitung dan Belitung Timur," katanya di Pangkalpinang, Senin.
Sementara itu, jenis bencana alam lain seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, maupun kecelakaan kapal akibat cuaca buruk dilaporkan nihil selama periode yang sama.
Kebiasaan Membakar Lahan Jadi Pemicu Utama
Menurut Sandy, tingginya angka karhutla di Pulau Belitung tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan cara membakar. Praktik ini, kata dia, menjadi sangat berbahaya di tengah musim kemarau karena api mudah menjalar ke semak-semak kering dan meluas tak terkendali.
"Kebakaran hutan dan lahan di Pulau Belitung masih tinggi, karena adanya kebiasaan masyarakat membuka lahan pertanian dan perkebunan dengan membakar, sehingga api sulit dikendalikan selama musim kemarau ini," ujarnya.
Pembakaran Sampah dan Gotong Royong Tak Terkendali Ikut Berkontribusi
Selain pembukaan lahan, Sandy mengungkapkan bahwa karhutla juga dipicu oleh aktivitas pembakaran sampah dan kelalaian saat gotong royong membersihkan hutan kota. Api dari kegiatan tersebut kerap merambat ke kawasan hutan yang lebih luas.
"Penyebab karhutla ini banyak disebabkan oleh warga yang membakar sampah dan membersihkan lahan pertanian, yang kemudian api merambat ke kawasan hutan sekitarnya," jelasnya.
BPBD Gencarkan Sosialisasi Larangan Bakar Lahan
Untuk menekan angka kebakaran selama musim kemarau, BPBD provinsi, kabupaten, dan kota terus mengintensifkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Imbauan utama yang disampaikan adalah larangan membuka lahan dengan cara membakar.
"Kami mengimbau masyarakat tidak membakar lahan, karena api akan sangat mudah menjalar ke semak-semak belukar yang mengering selama musim kemarau ini," tegas Sandy.
Langkah preventif ini diharapkan mampu menekan potensi karhutla susulan mengingat puncak musim kemarau di Bangka Belitung diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.