PANGKALPINANG — Sebanyak 52 varietas durian dari seluruh kabupaten di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) dipertandingkan dalam kontes durian yang menjadi pembuka tradisi Nganggung Durian dan Sedekah Durian di Desa Pelangas. Pemerintah provinsi tidak hanya menyediakan ribuan buah durian gratis bagi pengunjung, tetapi juga menggandeng influencer untuk memperkuat promosi budaya lokal ini ke kancah nasional dan internasional.
Kontes 52 Varietas Durian dan Ribuan Buah Gratis
Acara yang berlangsung di Desa Pelangas, Kabupaten Bangka Barat, pada Kamis (9/7) dan Jumat (10/7) itu menghadirkan kompetisi durian unggulan dari berbagai daerah di Babel. Setelah kontes, panitia menyediakan ribuan buah durian yang bisa dinikmati setiap orang yang hadir tanpa dipungut biaya.
"Kegiatan ini tidak hanya menarik masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan Nusantara hingga mancanegara," kata Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kepulauan Babel, Wydia Kumala Sari, di Pangkalpinang, Sabtu.
Mengapa Pemprov Gandeng Influencer?
Pemprov Babel sengaja melibatkan para pemengaruh untuk memperkuat promosi tradisi-tradisi desa agar semakin dikenal wisatawan. Menurut Wydia, kekuatan sebuah destinasi wisata tidak hanya terletak pada keindahan alam atau kuliner, tetapi juga pada tradisi dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat.
"Upaya ini kami lakukan untuk memperkuat promosi berbagai tradisi yang ada di desa-desa agar semakin dikenal wisatawan nasional dan mancanegara," ujarnya.
Kebersamaan Lintas Etnis di Masjid Miftahul Jannah
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah suasana gotong royong antara masyarakat Tionghoa dan Melayu yang bersama-sama menggelar acara di Masjid Miftahul Jannah. Influencer kuliner Babel, Koko Bangka Ngin, mengaku terkesan dengan kerukunan warga setempat.
"Acara ini luar biasa, kekeluargaan masyarakat Desa Pelangas sangat rukun dan damai. Saya melihat masyarakat Tionghoa dan Melayu bersama-sama bergotong royong memajukan pariwisata melalui kegiatan nganggung di Masjid Miftahul Jannah, ini luar biasa," katanya.
Tradisi Kelekak yang Diwariskan Turun-Temurun
Kepala Desa Pelangas, Hermin, menjelaskan bahwa tradisi ini sudah berlangsung sejak zaman dahulu, tepatnya saat pohon-pohon di kelekak—sebutan lokal untuk kebun—sedang berbuah lebat. Selain mengeratkan tali silaturahmi, kegiatan ini juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku UMKM lokal yang berjualan di sekitar lokasi acara.
Famtrip dan Pesona Budaya Jerieng 2026
Setelah acara di Desa Pelangas, Pemprov Babel melanjutkan rangkaian kegiatan dengan Familiarization Trip (Famtrip) di Bangka Barat pada 9-12 Juli 2026. Acara ini merupakan bagian dari persiapan penyelenggaraan Pesona Budaya Jerieng 2026 yang meliputi Taber Laot, Festival Durian, dan Sedekah Bumi di tiga desa: Desa Rambat, Desa Pelangas, dan Desa Air Limau.