PANGKALPINANG — Sebanyak 49 dari total 86 spesies ikan cupang (Betta) di dunia berada di Indonesia. Bangka Belitung sendiri menjadi rumah bagi beberapa spesies endemik yang kini terancam akibat perubahan habitat, alih fungsi lahan menjadi perkebunan, dan pencemaran lingkungan.
Betta burdigala: Ikan Endemik Bangka di Ambang Kepunahan
Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN, Boby Muslimin, menyatakan Betta burdigala telah masuk dalam kategori Critically Endangered atau kritis berdasarkan IUCN Red List. Spesies ini hanya ditemukan di Pulau Bangka dan diyakini sebagai leluhur bagi beberapa jenis ikan cupang lainnya.
"Ikan ini sudah berada pada kategori kritis sehingga diperlukan upaya konservasi bersama, baik melalui perlindungan habitat, konservasi in-situ maupun ex-situ, serta pengembangan budidaya," jelas Boby.
Penelitian Tahun Keempat Fokus pada Pemijahan Buatan
Dukungan PT Timah diberikan kepada tim peneliti Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang yang tengah melaksanakan riset berjudul "Pengungkapan Biodiversitas Whole Genome dan Pengembangan Konservasi Ex-situ Sumber Daya Ikan Endemik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung". Riset ini telah memasuki tahun keempat dan berkolaborasi dengan BRIN serta Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung (The Tanggokers).
Ketua Peneliti sekaligus Dekan Fakultas Pertanian UM Palembang, Dr. Helmizuryani, mengatakan saat ini penelitian difokuskan pada proses domestikasi dan pemijahan Betta burdigala. Tim berupaya menemukan metode pemijahan terbaik menggunakan stimulasi hormon.
"Alhamdulillah, PT TIMAH memberikan dukungan dalam penelitian ini sehingga penelitian dapat berjalan dengan lancar," katanya.
Hasil Riset Bisa untuk Restocking di Kolong Bekas Tambang
Selama empat tahun, tim peneliti telah menghasilkan berbagai publikasi di jurnal internasional bereputasi Q1 hingga Q4 serta menerbitkan dua buku tentang ikan endemik Bangka. Jika penelitian berhasil, hasil budidaya dapat dimanfaatkan untuk program restocking di habitat alami.
"Kalau penelitian ini berhasil, hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan restocking sehingga populasi ikan endemik ini bisa kembali meningkat," ujar Helmizuryani.
Boby Muslimin menambahkan, hasil domestikasi juga berpotensi mendukung program reklamasi PT Timah. Ia menegaskan lokasi pelepasliaran harus disesuaikan dengan karakter habitat alami ikan yang hidup di rawa gambut dangkal.
"Lebih cocok ditempatkan pada kawasan tepian kolong bekas tambang yang telah direhabilitasi," jelasnya.
Dukungan Berkelanjutan untuk Konservasi Ikan Lokal
Helmizuryani mengungkapkan, dari 86 spesies ikan cupang di dunia, 49 spesies di antaranya berada di Indonesia. Bangka Belitung memiliki sejumlah spesies endemik dengan nilai ekologis dan ekonomi tinggi yang kini menghadapi ancaman serius.
"Kalau upaya konservasi tidak dilakukan mulai sekarang, tinggal menunggu waktu saja ikan-ikan endemik ini akan punah. Kami mengapresiasi peran PT TIMAH yang sudah memulai mendukung penelitian ini," tegasnya.
Sebelumnya, PT Timah juga berkolaborasi dengan Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung (The Tanggokers) dalam mendukung penelitian dan penerbitan buku Biodiversitas Ikan Tempalak (Wild Betta) Endemik Pulau Bangka.
"Kami mengapresiasi PT TIMAH sudah concern terhadap isu lingkungan khususnya ikan endemik. Ikan ini merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan budaya serta dibutuhkan dalam ekosistem lingkungan," tutup Boby.