Pencarian

BI Rate Naik ke 5,25%, Cicilan KPR Floating Bisa Bertambah Rp 140 Ribu per Bulan

Senin, 25 Mei 2026 • 07:24:01 WIB
BI Rate Naik ke 5,25%, Cicilan KPR Floating Bisa Bertambah Rp 140 Ribu per Bulan
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,25%.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Bank Indonesia resmi menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25% seiring tekanan nilai tukar rupiah. Langkah ini memicu penyesuaian suku bunga kredit perbankan, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan skema bunga mengambang atau floating.

Simulasi Cicilan: Berapa Tambahan yang Harus Dibayar?

Pengamat perbankan dan praktisi sistem pembayaran Arianto Muditomo menjelaskan, kenaikan BI Rate mendorong bank menaikkan bunga KPR karena biaya dana (cost of fund) ikut naik. Namun, besaran kenaikan tidak selalu sama persis antar bank.

"Setiap bank memiliki strategi pricing berbeda," ujarnya kepada detikcom.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang membeli rumah seharga Rp 500 juta dengan tenor 15 tahun dan bunga 10%, cicilan bulanan sekitar Rp 5,37 juta. Apabila suku bunga naik 0,5% menjadi 10,5%, cicilan membengkak menjadi Rp 5,51 juta per bulan. Artinya, debitur harus menyiapkan tambahan Rp 140 ribu setiap bulan.

Minat Masyarakat Ambil KPR Diprediksi Turun 4-5%

Kenaikan suku bunga tidak hanya membebani debitur lama, tetapi juga menekan minat calon pembeli rumah. CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan, setiap kenaikan 1% suku bunga KPR berpotensi menurunkan minat masyarakat sebesar 4-5%.

Berbeda dengan KPR komersial, KPR subsidi dengan skema bunga tetap (flat) 5% dari awal hingga akhir dipastikan tidak terpengaruh oleh kebijakan BI Rate.

Tiga Langkah agar KPR Tidak Macet di Tengah Jalan

Direktur Global Asset Management Steve Sudijanto mengingatkan, debitur KPR dengan bunga mengambang harus waspada. Risiko gagal bayar akibat kenaikan cicilan tidak main-main: rumah bisa disita bank, uang muka hangus, dan catatan kredit di SLIK OJK tercoreng.

Steve memberikan tiga rekomendasi bagi debitur yang ingin tetap bertahan. Pertama, pangkas anggaran kredit lain. Jika memiliki cicilan mobil atau kendaraan lain, pertimbangkan untuk melepas salah satunya. "Jangan nyicil 2 mobil, 1 mobil aja," katanya.

Kedua, berhemat dengan mengubah gaya hidup. Misalnya, beralih ke transportasi massal untuk mengurangi pengeluaran bahan bakar, atau menunda liburan ke luar negeri dan menggantinya dengan destinasi domestik.

Ketiga, opsi paling ekstrem adalah menjual rumah atau melakukan pengalihan kredit (take over). Steve tidak menyarankan restrukturisasi dengan perpanjangan tenor karena cicilan saat suku bunga tinggi bisa lebih mahal dari biaya sewa. "Apabila laku, modal membeli rumah bisa balik. Pindah ke kontrakan dulu sambil menabung untuk membeli rumah lain," ujarnya.

Tips bagi Calon Debitur di Tengah Suku Bunga Tinggi

Bagi masyarakat yang baru berencana mengambil KPR, Steve menyarankan untuk memilih rumah dengan harga di bawah Rp 1 miliar. Selain itu, cari bank yang menawarkan suku bunga tetap (fixed rate) dalam 2-3 tahun pertama untuk mengamankan cicilan di awal masa kredit.

Bagikan
Sumber: detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks