KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Amir Ghalenoei membawa Tim Melli ke putaran final yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada setelah menjuarai grup kualifikasi dengan tujuh kemenangan dari sepuluh laga. Ini adalah kali keenam Iran tampil di Piala Dunia, namun catatan mereka di fase grup masih nihil—belum pernah sekalipun melaju ke babak gugur.
Grup G: Ujian Berat Lawan Belgia dan Mesir
Undian menempatkan Iran di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Dua nama pertama adalah lawan yang familier bagi tim Asia: Belgia dengan skuad emasnya yang selalu diunggulkan, dan Mesir yang diperkuat pemain-pemain tangguh dari Liga Inggris dan Afrika.
Selandia Baru menjadi lawan yang paling mungkin untuk dikalahkan jika Iran ingin merebut posisi runner-up grup. Namun, untuk pertama kalinya dalam sejarah, publik sepak bola Iran punya ekspektasi lebih dari sekadar partisipasi.
Mehdi Taremi: Mesin Gol Berusia 33 Tahun yang Masih Tajam
Kunci utama keberhasilan Iran di kualifikasi adalah Mehdi Taremi. Striker Olympiacos ini mencetak 10 gol dalam 15 pertandingan, bukti bahwa usianya yang menginjak 33 tahun belum mengurangi ketajamannya.
Ini akan menjadi Piala Dunia ketiga bagi Taremi. Pengalaman bermain di Qatar 2022 dan Rusia 2018 memberinya perspektif unik tentang apa yang diperlukan untuk bersaing di panggung terbesar.
Target Sejarah: Akhir dari Kutukan Fase Grup
Iran belum pernah lolos dari babak penyisihan grup dalam enam partisipasi sebelumnya. Rekor terbaik mereka adalah satu kemenangan dan dua hasil imbang di Piala Dunia 1998, 2018, dan 2022—selalu gagal melangkah lebih jauh.
Ghalenoei tahu betul tekanan ini. "Kami datang bukan hanya untuk bermain," katanya dalam sesi konferensi pers setelah kepastian lolos. "Kami datang untuk bersaing dan membawa pulang sesuatu yang belum pernah diraih Iran sebelumnya."
Dengan kombinasi pemain berpengalaman seperti Taremi dan generasi baru yang haus prestasi, Iran kini punya modal lebih dari sekadar harapan. Pertanyaannya: apakah ini saatnya Tim Melli memecahkan kutukan?