Pencarian

Pendanaan Startup Fusi Nuklir Global Tembus USD 7,1 Miliar, CFS dan TAE Kuasai Puncak

Sabtu, 20 Juni 2026 • 08:16:01 WIB
Pendanaan Startup Fusi Nuklir Global Tembus USD 7,1 Miliar, CFS dan TAE Kuasai Puncak
Commonwealth Fusion Systems berhasil mengumpulkan hampir USD 3 miliar untuk pengembangan reaktor fusi nuklir komersial.

KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Industri fusi nuklir, yang dulu kerap dianggap sebagai teknologi "selalu 10 tahun lagi", kini mulai menunjukkan hasil konkret. Menurut data PitchBook, total investasi swasta yang mengalir ke sektor ini mencapai USD 7,1 miliar. Tiga faktor utama mendorong lonjakan ini: chip komputer yang semakin bertenaga, kecerdasan buatan yang lebih canggih, dan magnet superkonduktor suhu tinggi yang revolusioner.

Commonwealth Fusion Systems: Penguasa Pendanaan dengan Target 2026

CFS menguasai sepertiga dari seluruh modal swasta yang masuk ke perusahaan fusi. Putaran pendanaan terbarunya, Seri B2 yang ditutup Agustus lalu, menambah USD 863 juta, sehingga total dana yang dihimpun mendekati USD 3 miliar. Angka ini melesat setelah putaran Seri B senilai USD 1,8 miliar empat tahun sebelumnya.

Startup yang berbasis di Massachusetts ini tengah membangun Sparc, reaktor pertama yang dirancang menghasilkan listrik di level "komersial". Reaktor ini menggunakan desain tokamak berbentuk donat yang dililit pita superkonduktor suhu tinggi. Saat dialiri energi, pita tersebut menciptakan medan magnet raksasa untuk mengurung dan menekan plasma super panas. Panas dari reaksi kemudian diubah menjadi uap untuk memutar turbin.

CFS menargetkan Sparc beroperasi pada akhir 2026 atau awal 2027. Selanjutnya, perusahaan akan membangun reaktor komersial bernama Arc berkapasitas 400 megawatt di dekat Richmond, Virginia. Google telah sepakat membeli setengah dari output listriknya. Investor CFS mencakup Breakthrough Energy Ventures, The Engine, dan Bill Gates.

TAE Technologies: Merger dengan Trump Media Group

TAE Technologies, didirikan pada 1998 dari University of California, Irvine, menggunakan pendekatan berbeda. Reaktornya menembakkan dua plasma dari ujung reaktor berbentuk cerutu, lalu membombardirnya dengan berkas partikel agar plasma tetap berputar stabil. Semakin stabil plasma, semakin banyak waktu untuk fusi terjadi dan panas yang bisa diekstrak.

Pada Desember 2025, TAE mengumumkan langkah mengejutkan: merger dengan Trump Media & Technology Group. Transaksi berbasis saham ini menilai perusahaan gabungan sebesar USD 6 miliar. TAE akan menerima USD 200 juta tunai, ditambah USD 100 juta setelah pengajuan dokumen ke SEC. CEO TAE, Michl Binderbauer, akan menjabat sebagai salah satu CEO perusahaan gabungan bersama Devin Nunes.

Sebelum merger, TAE telah mengantongi total pendanaan USD 1,79 miliar. Investor sebelumnya termasuk Google, Chevron, dan New Enterprise Associates.

Helion: Paling Agresif, Target Operasi 2028

Dari semua startup, Helion memiliki jadwal paling ambisius. Perusahaan asal Everett, Washington, ini berencana menghasilkan listrik dari reaktornya pada 2028. Pelanggan pertamanya adalah Microsoft.

Reaktor Helion menggunakan konfigurasi medan terbalik (field-reversed configuration) berbentuk jam pasir. Plasma diputar menjadi bentuk donat di setiap ujung, lalu ditembakkan saling mendekat dengan kecepatan lebih dari 1,6 juta km/jam. Ketika bertabrakan di tengah, magnet tambahan memicu fusi. Listrik dipanen langsung dari medan magnet yang dihasilkan reaktor, tanpa perlu turbin uap.

Pencapaian penting terjadi pada akhir 2022, ketika laboratorium Departemen Energi AS berhasil menciptakan reaksi fusi terkendali yang menghasilkan energi lebih besar dari energi laser yang digunakan. Eksperimen ini melampaui titik impas ilmiah, meski masih jauh dari impas komersial. Namun, ini membuktikan bahwa fisika dasarnya benar dan memberi angin segar bagi seluruh industri.

Dengan target operasional antara 2026 hingga 2028, persaingan menuju reaktor fusi komersial kini memasuki tahap paling kritis. Investor dan pengamat energi akan mengawasi apakah startup-startup ini mampu mengubah janji ilmiah menjadi listrik nyata yang bisa dinikmati konsumen.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks