KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Tekanan terhadap rupiah kembali terasa di awal sesi perdagangan hari ini. Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda terkoreksi 0,25 persen dari posisi penutupan sebelumnya, menjauhi level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Sentimen Global Jadi Biang Kerok: Inflasi AS Kembali Panas
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pelemahan rupiah tidak terlepas dari penguatan dolar AS secara global. Pemicu utamanya adalah rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menunjukkan inflasi inti naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman.
Pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat Federal Reserve kian memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Peta Kekuatan: Rupiah Kalah Saing dengan Ringgit, Tapi Masih Lebih Baik dari Won
Di kawasan Asia, pergerakan rupiah pagi ini sejalan dengan mayoritas mata uang regional yang kompak melemah. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan depresiasi 0,38 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,05 persen. Yen Jepang dan yuan China juga ikut terkoreksi masing-masing 0,03 persen dan 0,01 persen.
Namun, ada sedikit angin segar dari ringgit Malaysia yang berhasil terapresiasi 0,31 persen, menjadikannya salah satu dari sedikit mata uang Asia yang menguat. Peso Filipina dan dolar Hong Kong juga mencatatkan kenaikan tipis.
Di kelompok mata uang utama negara maju, dolar Kanada menjadi satu-satunya yang mampu menguat 0,03 persen terhadap dolar AS. Sebaliknya, dolar Australia terperosok 0,29 persen, euro turun 0,10 persen, dan poundsterling Inggris melemah 0,03 persen.
Proyeksi Hari Ini: Siap-siap Uji Level Rp18.050
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan sepanjang hari ini. Rentang pergerakan diperkirakan berada di Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Pelaku pasar disarankan mencermati perkembangan data ekonomi AS selanjutnya serta pernyataan pejabat The Fed yang dapat memicu pergerakan tajam. Investasi mengandung risiko.