KEPULAUAN BANGKA BELITUNG — Keputusan ini diumumkan langsung oleh manajemen Lucid pada Selasa (23/6). Mengutip Reuters, pemangkasan karyawan merupakan imbas dari membengkaknya biaya produksi di tengah persaingan pasar kendaraan listrik yang kian ketat.
Minat Konsumen Bergeser ke Model Terjangkau
Menurut keterangan resmi Lucid, tren pasar di AS saat ini menunjukkan pergeseran preferensi. Konsumen mulai meninggalkan model premium dan beralih ke mobil listrik yang harganya lebih ramah di kantong. Sayangnya, Lucid mengaku belum bisa mewujudkan produk dengan banderol murah tersebut dalam waktu dekat.
Kondisi ini membuat Lucid harus bersaing sengit dengan pemain mapan seperti Tesla dan General Motors. Minimnya permintaan terhadap model EV buatan Lucid menjadi tekanan besar bagi profitabilitas perusahaan.
Berapa Banyak Karyawan yang Terkena Dampak?
Lucid enggan merinci jumlah pasti karyawan yang terkena PHK. Namun, per 31 Desember lalu, total tenaga kerja global perusahaan mencapai sekitar 9.000 orang. Pihak manajemen memastikan pemangkasan ini mencakup karyawan tetap, kontraktor, hingga pekerja manufaktur per jam.
Dampak paling terasa di pabrik utama mereka, AMP-1. Lucid menghapus shift kedua di fasilitas produksi EV andalannya itu. Ini bukan kali pertama perusahaan melakukan efisiensi. Pada Februari 2026, Lucid sudah memangkas 12 persen karyawan di AS untuk menekan biaya operasional.
Strategi Bertahan: SUV Gravity dan Robotaxi
Bulan lalu, Lucid bahkan menangguhkan prospek produksi untuk 2026. Keputusan itu diambil sembari menunggu hasil evaluasi menyeluruh segmen EV di AS. Untuk mendorong pertumbuhan, perusahaan kini mengandalkan SUV Gravity dan model EV segmen menengah yang akan datang.
Selain itu, Lucid juga menyiapkan lini bisnis baru. Mereka menjajaki peluncuran robotaxi melalui kemitraan dengan Uber dan startup kendaraan otonom, Nuro. Langkah ini diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan alternatif di tengah lesunya penjualan mobil listrik premium.